Wednesday, May 30, 2012

Setiap Hari Tanggal Merah

“Neng Nong Neng Nong. Pemirsa, tiba saatnya kita di penghujung acara. Pada malam bersejarah ini, kita akan menyaksikan apakah saudara Badu bisa mendapatkan hadiah pamungkas sebesar 1 milyar Rupiah? Ataukah mimpinya akan pupus di pertanyaan terakhir ini?”

“Badu, apakah Anda siap?” “Saya, uhuk uhuk, ehmmmm, ehrrrmmmm, ehm, saya,,, mudah-mudahan saya siap.”, jawab Badu dengan muka seputih salju dan suara serak-serak kering. “Akankah malam menegangkan ini berakhir dengan sukacita?” tanya pembawa acara sambil memberikan senyuman Pepsodent ke arah jutaan penonton di seluruh pelosok Indonesia.

“Badu, saya ingatkan Anda, pertanyaan ini adalah pertanyaan satu milyar Rupiah. Dan Anda tidak mempunyai pilihan bantuan, kecuali pilihan ‘phone a friend’”

“Pertanyaannya adalah…” neng nong neng nong. “Pada tanggal berapakah lampu diciptakan?”

Badu lalu terdiam sejenak, mengerutkan keningnya. Dalam hati Badu: “Mumpung lagi di tipi, pura2 mikir aje biar gada yang tau kalo gue ga ngerti.” “Badu, Anda terlihat sangat serius.”, komentar sang pembawa acara sambil tersenyum sinis. “Yaiyalah bro, wong 1 M!”, gerutu Badu, lagi-lagi dalam hatinya. Tak sabar menunggu, pembawa acara itu lalu bertanya “Badu, apakah Anda ingin menggunakan pilihan bantuan terakhir?”

Lalu Badu tersenyum mencurigakan. Wajah saljunya yang penuh ketegangan berubah menjadi wajah santai di pantai. “Oke pak, saya mau telepon teman lama saya.”, jawab Badu optimis. “Baik, siapa teman lama Anda, Badu?”

“Saya mau telepon Thomas Alva Edison.”

“Kring kring kring.. kring kring kring.. halo, halo, Thomas, woy Mas, kapan lu nyiptain lampu?”

“Tau ah gelap, lo nelepon2 ga jelas! Udah malem disini!” jawab Thomas mengekspresikan kemarahannya.

Hahahaha. Badu oh Badu. Alhasil, Badu tetap menang walau tidak dibantu Thomas, namanya juga BA-DU, BA-nyak DU-it adalah destiny-nya.

Cerita ini fiktif tapi nyata. Sebab siapakah yang paling tahu kapan lampu diciptakan? Siapa lagi kalau bukan penciptanya?

Beberapa hari yang lalu, sebangun dari tidur, badanku masih letih, namun aku harus belajar karena ujian sudah dekat. Lalu ada 1 suara yang muncul di hatiku ini: “Coba cek tanggal ultah temenmu, si Axxxxx.” (siapa? Axxxxx! Iya si A. A-A-A-A…dadeh.) Wkwkwk. Ya anggap saja si A. Jujur, aku sama s’kali tidak tahu kapan ultah si A ini (aku lebih blank daripada Badu). Entah kenapa suara itu muncul, namun aku anggap bukan sesuatu yang terlalu penting dan aku lupakan suara itu.

Selesai saat teduh, aku buka Facebook-ku dan tak sengaja, aku melihat “birthday notification”. Kamu tahu? Ternyata si A ultah. Ngantukku berubah menjadi shock. Dan aku tersenyum, beberapa waktu yang lalu aku minta Tuhan kalo boleh aku tahu rahasia-rahasia-Nya. And God hears my prayer. Aku ralat: God hears OUR prayer. Amin?

Coba kamu bayangkan. Bayangkan kalau bukan Badu yang ada ada di kuis itu, tapi DIA. Dan pertanyaannya adalah “Kapan kamu diciptakan?” Aku rasa, Dia akan menjawab dengan refleks, bahkan sebelum pembawa acara membacakan pilihan jawabannya.

Sebab DIA itu penciptamu. Dia yang paling mengenalmu. Kelemahanmu, kelebihanmu, kesedihanmu, kecemasanmu, kesukaanmu, rahasiamu yang kau tutup-tutupi itu. He knows. He knows. And HE still LOVES you! He CARES about you!

Kasih Yesus itu adalah kasih yang peduli. So, apa yang membuatmu masih ragu? Terima Dia dalam hatimu dan katakan kerinduanmu itu. Curhatlah! Sebab Allah tahu semua, Dia peduli, Dia mengerti. God knows every little details about you. "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” Bagaimana mungkin seseorang yang begitu mencintaimu tidak membukakan pintu bagimu? Bagaimana mungkin Dia tidak menjawabmu ketika kamu memanggil-Nya?  Jika Tuhan mempunyai sebuah handphone, pasti tidak ada data miss-call di handphone itu, sebab semua panggilanmu Dia jawab.

“Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah; mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.” (Mzm 139:16)

Tahukah kamu bahwa di kalendarnya Tuhan, semua tanggal itu warnanya merah? Sebab Ia mencatat hari-hari spesial-Nya: Hari ULTAH-mu, hari kamu berdoa menyapa-Nya, hari kamu memuji-Nya, hari kamu bertobat dan meminta pengampunan-Nya, hari ketika kamu mulai mau membaca firman dan mendengarkan Dia. Semua hariku menjadi “tanggal merah” sebab hari-hari bersama Yesus adalah hari yang spesial! AMIN.

http://www.colourbox.com/preview/3223562-527616-a-date-circled-on-a-calendar-with-red-ink.jpg

PS: dengerin lagu ini ya!!! :p

 

I Have a Maker (He Knows My Name)

Merk sebuah pena tidaklah dicantumkan di daftar pustaka, yang dicantumkan hanyalah nama penulisnya.

pics taken from http://www.colourbox.com/preview/3223562-527616-a-date-circled-on-a-calendar-with-red-ink.jpg

Thursday, May 24, 2012

Tangan-tangan di dinding tembok itu

Aku ingat sewaktuku kecil aku sangat penakut. Takut gelap, takut hantu, takut buaya, takut gigiku copot, takut guru yang galak, dan banyak lainnya. Namun, satu memori masa kecilku yang sampai sekarang kuingat adalah ketika aku “melihat” bayangan tangan-tangan di dinding tembok rumah. Malam-malam aku lihat tangan-tangan itu, mereka memang tak dapat menyentuhku, namun mereka membuatku sangat-sangat takut.

http://images.fineartamerica.com/images-medium/wall-of-hands-steve-and-nanci-cannon.jpg

Suatu hari karena sangking takutnya aku, aku menceritakan semuanya pada papaku. Aku ingat persis responnya. Dia bukan bilang: “Ah mana ada itu. Cuma di film aja itu.” Atau “Itu imajinasi kamu aja, nak.” (btw mungkin waktu itu aku belum tahu arti kata imajinasi. Nasi + ajinomoto? Wkwk).

Melanjutkan keseriusan dan ketegangan cerita ini, papaku seperti mempunyai “cara lain” untuk membuatku tidak takut lagi. Tahukah kamu apa yang dia lakukan?

Sebelum aku menceritakannya, aku ingin fast forward sedikit ceritaku (kira-kira 20 tahun kemudian). Sebagai seorang mahasiswa asing di negeri orang, aku sempat kehilangan sesuatu yang bernama “keyakinan”. Yakni keyakinan kalau aku bisa berhasil mengerjakan studiku. Tangan-tangan di tembok itu muncul lagi, bukan di tembok kali ini, tapi di pikiranku. Mereka bergoyang-goyang lincah bak seorang dirigen yang memimpin orkestra lagu berjudul “kamuu tidaak biissaa, vidd”. Percaya akan lagu itu, aku bangun dan aku tidur sebab aku tahu aku akan gagal, esoknya aku bangun dan aku tidur lagi, sampai berminggu-minggu terlewati tanpa hasil belajar sedikitpun. Alhasil tugasku “hampir” tidak beres dan semua seperti sudah berakhir.

Jarum detik kekalahan itu sudah mulai bergetar di ujung telingaku. Namun, ada Dia yang tidak pernah membiarkan anak-Nya dipermalukan. Satu hari, waktu itu aku ingat hujan lebat di sore hari, entah kenapa di hati ini aku ingin lari. Aneh, begitu lama aku tidak lari dan saat itu aku ragu apakah aku sanggup. Namun kerinduan itu muncul dan kupaksa badanku berlari. Kulupakan tembok-tembok itu dan lagu keputusasaannya, lalu kugerakkan kakiku cepat sambil mendengarkan lagu-lagu Dia. Satu lagu berbunyi: “Ada satu sobatku yang setia, tak pernah Ia tinggalkan diriku. Di waktu aku susah, waktuku sendirian, Dia s’lalu menemani diriku. Nama-Nya Yesus, Nama-Nya Yesus, Nama Yesus yang menghibur hatiku.” Bayangkan film Rocky Balboa, petinju yang lari-lari sebelum bertanding, lalu hapus dari bayanganmu otot-ototnya yang kekar, tambahkan sedikit perut buncit dan latar hujan, jangan hapus kegantengannya (:p), dan itulah aku, sedang berlari meninggalkan “spring bed” zona nyaman tipuan iblis. Aku yang selama ini bukan aku. Aku yang aku pikir aku tidak bisa. Aku yang bukan kata tembok, tapi yang kata Tuhan. Aku yang selama ini tidak kukenal sebelum Dia membuka mataku.

Sepulang lari sore, aku langsung membuka laptopku, sebuah email masuk di laptopku. Email yang tidak sengaja terkirim oleh seorang teman itu benar-benar membuatku terkejut dan takjub. Email itu berbunyi: “I DID IT!”

Yes, ada saatnya seseorang harus mengatakan ini kepada si penipu: “Aku sudah melakukannya! Ternyata selama ini kau hanya penipu yang selalu membuatku merasa tidak bisa, tidak pantas, tidak kuat! Sekarang lihat, bersama Yesus tidak ada yang tidak mungkin. Bersama Yesus, ketidaksanggupanku menjadi kesanggupan-Nya. Mulai detik ini, hanya Firman Kebenaran-Nya yang kupercayai dan bukan tipuanmu!”

Sebuah lari sore yang mengubah cerita hidupku. Sebab sejak saat itu, aku mengganti lagu-lagu pesimisku dengan lagu-lagu iman. Dan ketika aku terus menyanyikannya, aku melihat lagu iman itu menjadi kenyataan. Tugas-tugas yang harusnya sulit itu menjadi selesai and God made me successful. Sebab Allah kita bukan hanya Allah janji. Dia bukan hanya Allah iman. Atau Allah mimpi. Dia adalah Allah bukti. Ketika bubuk coklat firman-Nya dan susu murni iman ini bercampur, “SLURPP!”, sebuah coklat susu nikmat yang bernama “manisnya kenyataan hidup bersama Tuhan” akan kita nikmati. Dan ketika kita minum dan merasakan kenikmatannya, tidak ada penipu yang bisa mengatakan sebaliknya.

Oya, lalu apa yang papaku lakukan agar aku tidak takut lagi pada tangan-tangan di dinding tembok itu? Papaku menuntunku ke tembok itu, dan berkata: “mana tangan-tangan itu?” Sebuah tindakan sederhana yang membuatku tidak takut lagi.

Lagu ini bersenandung di hatiku ketika aku takut.

God will make a way
Where there seems to be no way
He works in way, I can not see
He will make a way

He will be my guide
Hold me closely to His side
With love and strength
For each new day
God will make a way
He will make a way

God bukan hanya “will make a way” (Dia bukan hanya buka jalan), tapi Dia juga “will be my guide” (Dia akan menjadi Penuntunku). Seperti seorang ayah yang bukan meninggalkan anaknya yang sedang ketakutan. Dan bukan juga mengajar anaknya untuk terus lari dari ketakutannya. Tapi BAPA menuntun kita untuk HADAPI semua ketakutan kita. HADAPI! Ya, HADAPI bersama DIA!

Hai tangan-tangan di dinding tembok, dimanakah sekarang nyanyian tipuanmu itu? Seperti Daud, aku akan membalas nyanyianmu dengan sebuah lagu seorang anak kecil yang menaklukkan Goliat, sang raksasa yang banyak omong itu. “Jrengg Jrengg Jrengg”, kuawali dengan intro gitar. Dan dengan mata tertuju kepada-Nya, suara dan hatiku seirama bernyanyi:

Tuhan adalah Gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku, di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. (Mzm 23:1-4)

Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu; kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut.” (Mzm 56:4-5a)

No more fear, beloved. Your Dad loves you, and He’s with you. He said He will never leave you, and never will He leave you, dear beloved. Amen.

-merk sebuah pena tidaklah ditulis di daftar pustaka, hanya nama penulisnya-

pics taken from http://images.fineartamerica.com/images-medium/wall-of-hands-steve-and-nanci-cannon.jpg

Monday, May 21, 2012

Sesuatu yang lebih berharga dari emas dan perak

Kulihat kalendar sepak bola, kucari tanggal berapa tim favoritku main. Tanggal 19 ternyata. Tim yang selama ini kudukung, dari penyisihan sampai final liga champion. Bahkan sejak bertahun-tahun yang lalu. Kini mereka akan bermain di final, di rumah mereka sendiri. Aku harus menyaksikannya!

Tak lama kemudian, teman Gerejaku mengirim sms yang membuat kata “dilema” bukan hanya ada di kamus besar bahasa Indonesia. Dia memintaku untuk bermain gitar di Gereja pada hari yang sama, di jam yang sama. Ohh, pergumulan ini. Memuji Dia? atau memuji Bayern? Jujur, di hatiku terjadi pertempuran hebat. Oh Tuhan, penyangkalan diri ini begitu berat. Lalu aku sediakan 1 malam untuk bertanya kepada Tuhan: “bagaimana aku harus membalas sms ini?” Sebuah pertanyaan yang tidak Ia jawab karena aku sudah tahu jawaban-Nya.

Tidak perlu seorang profesor untuk mengatakan hitam adalah hitam dan putih adalah putih. Walau berat sekali keputusan ini, namun kuambil. Kehendak Dia bukan kehendakku. Kemudian pertanyaanku selanjutnya: “Lagunya apa Tuhan?” Lalu kudengar lagu ini berbunyi di hatiku: “Lord, You are more precious than silver. And Lord, You are more costly than gold.”

Ketika malam aku menyapa-Nya, aku melatih dan menyanyikan lagu itu. Kemudian, aku membuka pembatas Alkitabku untuk mendengarkan suara-Nya. Waktu itu ayatnya dari Mazmur 119 dan ayat 127 meneguhkan apa yang Dia rindukan dalam hidupku: “Because I love Your commands more than gold, more than pure gold.” Dia berbicara kembali, meneguhkanku, mengingatkanku bahwa Dia lebih berharga daripada apapun.

Dia lalu memimpinku bermain gitar di persekutuan dan kami sungguh diberkati dengan pujian yang Ia beri. Namun, di hatiku ini, aku masih merindukan untuk nonton tim favoritku.

Ketika kami sampai di tempat makan, disana ada TV dan aku menyaksikan sisa2 pertandingan itu. Alhasil, tim favoritku kalah, dan kekalahannya sungguh2 tragis (adu penalti). Sedih hatiku dan kecewa.

Sampailah saat pengangkatan piala. Pemain2 Chelsi begitu bersukacita, sementara pemain Bayern tertunduk kepalanya. Yang satu dapat emas, yang lain dapat perak. Ketika aku melihat ini, kembali aku teringat ayat yang Tuhan beri: “Because I love Your commands more than gold, more than pure gold” dan bunyi lagu itu terngiang kembali di dalamku: “Lord, You are more precious than silver. And Lord, You are more costly than gold.”

Ada sesuatu yang lebih berharga dari kemenangan Chelsi (EMAS) dan kekalahan Bayern (PERAK), sesuatu itu bernama “His Commands.” Perintah-Nya. Kerinduan-Nya supaya hati ini melekat kepada-Nya dan bukan kepada yang lain, apapun itu.

Aku menulis ini bukan karena keberhasilanku, tapi karena kegagalanku untuk mengasihi Dia lebih daripada yang lain. Sebab aku yakin, kasih-Nya sanggup mengubah hatiku dan hatimu. Dalam kelemahanlah kuasa-Nya itu menjadi sempurna. Yesus mengasihiku dan-mu, dan kasih-Nya sanggup membuat hati kita melekat kepada-Nya.

Lord, give us a heart purer than gold, just to say: “Because I love Your commands more than gold, more than pure gold.

More Precious Than Silver
Lord You are more precious than silver
Lord You are more costly than gold
Lord You are more beautiful than diamonds
And nothing I desire compares with You

A pen’s brand is not written in the bibliography, only the author’s name. God is the only One to be glorified. Amen.

 

pics taken from http://www.killerpregos.co.za/wp/wp-content/uploads/2012/04/2012_Uefa_Champions_League_Chelsea_Bayern.jpg

lyrics from http://www.kennycarter.net/Lyrics/Lord%20You%20Are%20More%20Precious%20Than%20Silver.htm

Wednesday, May 9, 2012

Sebuah Fakta yang Tidak Bisa Diubah Siapapun

Pelatihnya miris melihat sang juara terpojok di ujung ring. Mungkin begitu jugalah perasaan para fans-nya yang mendukungnya dengan logo khas Afrika: “ALI, BUMAYE!” atau “ALI, HABISKAN DIA!” Namun, kenyataan menunjukan hal lain. Si “raksasa” George Foreman tampak menguasai jalannya pertandingan dan memojokkan sang juara!

Beberapa detik sebelum ronde berakhir, bak halilintar di siang bolong, Ali tiba-tiba melepaskan pukulan kombinasi yang menghajar imageForeman, membuatnya jatuh tergeletak. Penontonpun kegirangan, sebuah legenda tercipta. Sebuah kemenangan bersejarah yang mengukuhkannya sebagai juara sejati di ring tinju kala itu.

Pernahkah kamu berada di pojok ring tinju kehidupan? Kamu berpikir semua sudah selesai dan tidak ada lagi harapan? Jatuh dan terus jatuh, sampai kamu tidak lagi percaya bisa bangkit?

Suatu hari, aku merasa demikian. Begitu sedih karena semua hancur. Kekalahan dan kejatuhan memberi warna gelap di kanvas kehidupanku. Namun, satu hal aku lihat. Satu hal aku dengar. Tuhan Yesus setia. Dia memanggilku dengan sebutan namaku. Di saat hilang harapanku, di saat aku merasa hidupku begitu parah dan bergelimang dosa. Dia mengirimku suatu text message yang membuatku kembali bangkit. Satu kata saja di message itu: “kekasih”.

Setiap kegagalan dan kejatuhan kita tidak mengubah status kita di mata-Nya, yaitu “kekasih”-Nya. Orang yang Ia sayangi. Sebuah fakta yang tidak bisa diubah siapapun.

Kegagalan dan dosa bisa memojokkan kita, namun Tuhan punya cara untuk membuat sang juara (kamu) menang. Percayakah kamu? Percayakah kamu bahwa Dia sanggup mengangkat kamu dari segala kegagalanmu? Bahwa Dia sanggup melepaskan kamu dari dosa-dosa yang mengikatmu? Dan bahwa Dia tetap mengasihimu sekalipun begitu banyak kesalahanmu? Beloved is an identity, it sticks with you and me.

Love never fails… (1 Cor 13:8a) and Jesus loves you, beloved.

Merk sebuah pena tidak ditulis di daftar pustaka,
hanya nama penulisnya.

pics taken from https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEirExYdzrzAsUQoogKBN_p37oalHrEKxMmwFrZCeJPWhfa9B87Hf91RMbEcVeU4vvdnO7QJhPt-R9cTGFn-UioSo26SZEnywA2MlxQtWP0G-YY86XGILzB94_vtLPWJlPd9YAXOzv8Y8ycr/s1600/AliForeman.jpg

2 Things to Remember

2 things

I Love to Tell the Story
I love to tell the story of unseen things above
Of Jesus and His glory of Jesus and his love
I love to tell the story because I know 'tis true
It satisfies my longings as nothing else can do

Chorus
I love to tell the story, 'twill be my theme in glory
To tell the old, old story of Jesus and his love

I love to tell the story, for those who know it best
Seem hungering and thirsting to hear it like the rest.
And when in scenes of glory I sing the new, new song
'twill be the old, old story that I have loved so long
lyrics adapted from
http://www.traditionalmusic.co.uk/gospel-songs-chords/i_love_to_tell_the_story.htm

Praise GOD!!!

Monday, May 7, 2012

Keringnya “Nyanyian Rohani”

How can we sing the songs of the LORD while in a foreign land? If I forget you, O Jerusalem, may my right hand forget its skill. May my tongue cling to the roof of my mouth if I do not remember you, if I do not consider Jerusalem my highest joy. (Psa 137:4-6)

Firman ini bicara kepadaku mengenai kekeringan suatu pujian atau nyanyian rohani. Jika bukan Tuhan yang menjadi sukacita terbesarku (my highest joy) dan jika aku melupakan-Nya, maka lebih baik aku lupa cara bermain gitar (“forget its skill”) dan lebih baik aku tidak bisa beryanyi (may my tounge cling to the roof of my mouth).

Sebab pujian berbicara mengenai sesuatu imageyang jauh lebih besar daripada skill gitar atau kemerduan suara. Pujian bicara soal hati yang mengingat Dia, yang bersukacita karena Dia lebih daripada alasan apapun. Bagaimana mungkin aku menerima sukacita sejati jika aku mencari-cari sukacita palsu dari tempat lain? Bagaimana mungkin aku bisa bernyanyi dan bermain gitar jika aku tidak berada di hadirat-Nya (while in a foreign land)? Hadirat-Nya yang manis itulah akar dari pujian dan penyembahan sejati.

Lead us to praise You with our heart desiring You as David did.
“Aku hendak menyanyi bagi Tuhan selama aku hidup, aku hendak bermazmur bagi Allahku selagi aku ada. Biarlah renunganku manis kedengaran kepada-Nya! Aku hendak bersukacita karena Tuhan.” (Mzm 104:33-34)

“di hadirat-Mu, kucari wajah-Mu, yang kurindu hanya diri-Mu, pribadi yang mengasihiku

bukan berkat-Mu, bukan kebaikan-Mu yang membuatku mengikuti-Mu, melainkan diri-Mu

sekalipun Kau tak menjawabku, sekalipun Kau tak lepaskanku, namun ku akan tetap menyembah-Mu, takkan kutukar dengan apapun.

Bagiku hanya Kaulah Tuhanku, tiada allah lain dalam hidupku. Takkan berhenti, ku ‘kan memuji-Mu. Tak’kan ku berhenti menyembah-Mu.”

What a song!
If it rhymes in my life, what a life!
I bet a JOY-ful life it is.

Lead us to that kind of worship, this is my prayer. In Jesus name, Amen.

Glory is to our God.

pics taken from https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEijetAGswfTj3kDEULeefOgaZEPj3jrTDkJpndcN5_aG1yyfeWt4nNvOEqSKqcE9h8VcKtemeGDSPJ4ygVMDhW3ztjmDa3MmKg9YNsjmdSQOAMDppKEHYlzMqxyU1qiZ9qS1hQRZijY_7g/s1600-h/image%25255B4%25255D.png

Friday, May 4, 2012

Too Early for A Miracle?

Apalah artinya sebuah “aduh capek” yang kau ucapkan dalam hatimu?
Atau sebuah hembusan nafas kecil yang keluar dari hidungmu?

Apakah ada yang menganggapnya penting?

Sekitar 11 hari yang lalu aku duduk di sebuah bus. Dalam kesibukan tugasku, aku berbisik dalam hatiku: “seandainya saja pengumpulan tugas ini diundur”. Sebab aku merasa tidak bisa mengejar deadline yang sudah sangat dekat. Sejujurnya akupun tidak percaya akan bisikan itu. Waktu itu, belum pernah dalam sejarah perkuliahanku disini yang namanya tugas diundur. Lagian siapa yang peduli dengan sebuah bisikan hati yang diucapkanpun tidak?

Beberapa waktu kemudian, aku datang ke kuliah. Lima belas per enam belas kaget, aku mendengar dengan telingaku sendiri permintaan maaf dosenku karena ia telat memeriksa tugas sebelumnya. Lalu ia lanjutkan: “Oleh karena itu, pengumpulan tugas yang selanjutnya ditunda 1 minggu.”

Diam 0 bahasa, ya aku terdiam sejenak. Namun, ingatanku tidak bisa diam. Dia lari ke bus yang aku tumpangi dan memandang seorang mahasiswa asing asal Indonesia yang berbisik dalam hatinya: “seandainya saja ditunda”. Lalu ia kembali lagi lari ke ruang kuliah dan menyampaikan apa yang ia lihat dan dengar. Mimpikah ini? Bukan mimpi, tapi mujizat.

Hmm, mujizat? Bukankah terlalu cepat mengatakan itu mujizat? Bukankah ada suatu ilmu yang bernama probabilitas yang dapat menjelaskan bahwa itu hanya sebuah kebetulan?

Haripun berlanjut, satu hari demi satu hari. Dan sampailah aku di titik dimana tugas itu semakin mepet. Aku prediksi aku cuma punya waktu 4 hari untuk kerjakan tugas itu. Lalu, entah kenapa hatiku ini minta tanda sama Tuhan: “kalau memang aku bisa mengerjakannya, tolong Tuhan ketika aku buka pembatas Alkitabku, itu adalah cerita tentang Lazarus yang sudah mati dan bau. Namun, Tuhan bangkitkan.” Oiya, aku juga ga tau kenapa aku minta seperti itu. Keluar saja seperti ada yang bukan aku di hatiku, namun bicara begitu halus tapi jelas.

Dan, ketika aku membuka Alkitabku, haha. Iya, tentang Lazarus. Bukan hanya itu Lazaruspun sudah mati 4 hari. 4 hari yang sama untuk mengerjakan mission impossible (Manusia, 2012), tapi POSSIBLE (God, from everlasting to everlasting). Terlalu cepat untuk sebuah mujizat?

Hari ini, 4 hari setelah janji Tuhan itu, dengan kasih karunia Tuhan, aku selesaikan tugas ini. Masihkah terlalu cepat untuk sebuah mujizat?

Heran dan tidak percaya atau bahkan gemas adalah hati Tuhan ketika bangsa yang melihat air menjadi darah dan 9 tulah lainnya, menyeberangi laut yang terbelah, minum air dari gunung batu, masih bertanya: “Sanggupkah Allah menyajikan makanan di padang gurun? Memang, Ia memukul gunung batu, sehingga terpancar air dan membanjiri sungai-sungai; tetapi sanggupkah Ia memberikan roti juga, atau menyediakan daging bagi umat-Nya?” (Mzm 78:20-21)

Terlalu cepatkah itu disebut mujizat? Masihkah Tuhan sanggup? Hapus pertanyaan-pertanyaan itu dari hidupku, ya Tuhan.

Membaca tulisan di Facebook-ku beberapa waktu lalu, mamaku memberi saran kepadaku yang menggelitik telingaku. “Jangan mujizat terus nak, belajar yang rajin.” hahaha. Ada benarnya, ya. ada benarnya. Tapi, satu hal aku ketahui, gudang mujizat milik Bapaku tidak pernah “out of stock”. Tapi kerinduan-Nya: jangan ragu lagi, nak. Dua ding, satu lagi: “jangan bosan berharap dan merenungkan janji-Nya.” Gudangnya itu luas! Cerita ini cuma 1 buah bulu di badan kucing yang berewokan. hehe. Masih banyak lagi, ayo makanya yuk baca Alkitab. “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” (1 Tim 4:8). Puji Tuhan karena Firman-Nya YA! dan AMIN! for you and for me.

image

Merk sebuah pena tidak ditulis di daftar pustaka, hanya nama penulisnya.

pics taken from http://www.v3w.org/wp-content/uploads/2011/12/6733B4DA-C772-95D3-7AE0E23D3241A00F.jpg