Friday, September 30, 2016

Sola Gratia, Sola Fide, Sola Christus, Soli Deo Gloria

when you feel weak,
when every hope seems impossible,
when no one else can help,
when your own strength fails

no other way
no other hope

only by grace
only by faith
only in Christ
only for His glory

(Romans 4:18-25)

Tuesday, September 27, 2016

Prayer to ask a change of heart

God, let me live with a heart that is set on you. Please remove all worries I have. It shows that my heart is still not set on you.

Your words tell me not to worry. This is what you tell me 'And do not set your heart on what you will eat or drink; do not worry about it.' (Luke 12:29)

I want to keep looking on you and to know you more everyday. When I know you, I trust you. When I trust you, I won’t worry anymore.

Tuesday, September 13, 2016

Pilihan yang sulit

Menjadi seorang pengajar bukanlah suatu hal yang mudah. Saya tidak sedang berbicara mengenai gaji seorang guru atau pandangan orang mengenai guru.

Beberapa tahun lalu ketika saya menjadi seorang pengajar bimbel di kota Bandung. Saya menghadapi seorang murid yang sangat cerdas. Saya mencoba membantu murid tsb dan memberikannya soal-soal untuk latihan sembari memberikan solusi.

Sore hari saya ingat kejadian itu. Saya teringat dia menyepelekan saya dengan caranya yang ingin menunjukkan bahwa dia lebih pintar dari gurunya. Saya tidak ingat persis apa yang dia lakukan, tapi saya begitu emosi dengan sikapnya yang menyepelekan saya. Namun, saya mencoba menahan amarah saya. Saya menahannya sampai kelas selesai.

Amarah itu tetap ada sampai saya ada di kostan anak mentor (anak rohani saya). Menunggu lama, anak mentor saya itupun tidak datang2 juga. Saya tidak tahu bagaimana bisa memadamkan api amarah begitu besar yang saya simpan saat itu.

Ada pilihan untuk menyimpan amarah itu (dan inilah pilihan yang mudah). Namun, ada pilihan untuk melepaskannya (inilah pilihan sulit). Pilihan yang sulit inilah yang benar, namun pilihan ini tidaklah mudah untuk diambil. Kedua pilihan ini selalu bertentangan sehingga seperti ada perang di dalam hati. Seringkali, perang dimenangkan oleh pilihan yang mudah.

Mengenai pilihan yang sulit dan saling bertentangan ini juga dijelaskan dalam Alkitab:

Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. (Gal 5:17)

Singkat cerita ketika itu saya kesulitan untuk memilih melepaskan amarah saya (pilihan sulit). Namun, saya berbahasa roh dalam hati dan saya berdoa. Saya tahu bahwa ada power dalam pengandalan akan Roh. Dan benar, hati saya yang marah perlahan mulai tenang dan api amarah itu perlahan menjadi padam ketika saya berdoa.

Alkitab mengatakan:

Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. (Gal 5:16)

Amarah adalah salah satu perbuatan daging (Gal 5:20). Kesabaran dan penguasaan diri adalah perbuatan-perbuatan roh (Gal 5:21-22). Kedua hal ini saling bertentangan. Manusia dengan segala kelemahannya cenderung untuk memilih mengikuti keinginan dagingnya, namun manusia bukan cuma daging tapi juga adalah roh. Ketika Roh Kudus dibiarkan menguasai dan memimpin hidupnya, maka kedagingan itu tidak akan berdaya lagi. Pilihan sesulit apapun itu akan dipilih oleh orang yang hidup oleh ROH.

Adakah kita menghadapi pilihan sulit itu hari ini? Membalas atau mengampuni? Memuaskan hawa nafsu atau menahan diri? Iri hati atau memberkati? Egois atau peduli?

Pilihan mana yang kita ambil bergantung kepada seberapa besar kita mengandalkan ROH KUDUS dan seberapa besar penyerahan diri kita kepada ROH KUDUS.

Thursday, September 8, 2016

Everything we have has come from you, and we give you only what you first gave us

Life is about loving and giving. Life is not about getting richer and smarter

Life is about God, receiving His love and loving others

Life is about offering our lives to God. Asking Him to use it only for His glory everyday

Life is about giving it all. It is about receiving God's love and giving it all to others who need His love

Because everything we have has come from God, and we only give to God what He first gave us

Beloved, nothing you have is from you. It is all from God and only for His glory!

Tuesday, July 5, 2016

Angkat Tanganmu!

Kehidupan seorang pengikut Tuhan tidak lepas dari kejatuhan-kejatuhan. Namun, Alkitab mengajar bagaimana caranya supaya konsisten dalam mengikut Tuhan. Bagaimana menang dan terus menang.

Ketika Israel beperang melawan Amalek, ada satu kejadian unik dimana di belakang pasukan Israel yang berperang ada pemimpin yang mengangkat tangan kepada Tuhan. Pemimpin itu adalah Musa. Kel 17:11 'Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek.'

Satu hal yang mengena bagi saya adalah bagaimana kekuatan pasukan Israel ketika itu bukan karena besarnya pasukan, bukan juga karena skill pasukan-pasukan tersebut, tapi karena pemimpinnya mengangkat tangan kepada Tuhan.

Seringkali seorang yang tulus ingin mengikut Tuhan tidak menyadari hal ini. Mereka pikir setelah lahir baru semua akan manis. Semua akan mudah. Setiap hari pasti mengalami kemenangan. Benar, semua itu memang benar, apabila ia konsisten mengangkat tangan kepada Tuhan. Peperangan rohani dialami setiap hari oleh semua orang, namun kemenangan rohani hanya berlaku bagi mereka yang konsisten mengangkat tangan kepada Tuhan. Ini berarti konsisten berdoa. Konsisten mengatakan "bukan saya, bukan karena kuat saya. Tapi karena Tuhan saja."

Saya ingat ketika beberapa tahun lalu saya berada di kamar kost sendirian, saya mengalami godaan untuk berdosa. Namun, saat itu saya berdoa. Saya berbahasa roh dan berdoa. Keinginan-keinginan itu berlarut-larut hilang. Karena ketika saya penuh dengan Roh Kudus, tidak ada yang lain yang saya ingini. Iblis menawarkan dosa dan kedagingan untuk mengisi kekosongan itu. Namun, ia tidak pernah memberitahu bahwa semua itu hanya bisa bertahan sementara (kesenangan sesaat). Tapi Tuhan menawarkan mata air kehidupan (Roh Kudus) yang sampai kekekalan mengisi kekosongan kita, sehingga kita tidak perlu haus lagi akan keinginan-keinginan dunia.

"Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” (Yoh 4:13-14)

Memang benar juga firman Tuhan:

Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. (Gal 5:16)

dan 

Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah. (Mat 26:41)

Mengangkat tangan adalah sebuah tindakan iman. Musa tidak ikut berperang bukan karena ia takut kepada bangsa Amalek, namun karena ia tahu bahwa hanya Tuhanlah yang sanggup memberi kekuatan dan kemenangan. Sudahkah kita mengangkat tangan? Perbedaan antara kekuatan kita dan musuh hanya ditentukan oleh seberapa konsisten kita mengangkat tangan kita ke hadapan Tuhan.

Tuesday, June 28, 2016

Enjoying a New Life

No more regrets, no more guilt, no more pressure, no more fear for the future.

Just trust, just believe, just obedience, just God.

A wonderful life is a life in Jesus Christ. Nothing in the world can replace Jesus. Nothing offers peace that He gives to me.

I just want to thank You, Lord. I know my life is not forever, but whoever trusts in You will live forever with you in eternity, in Your home. That's where I want to be, with You, forever.

Saturday, June 25, 2016

Pemeran Utama

Saya teringat pengalaman saya ketika mendengar khutbah seorang hamba Allah dari Semarang. Sebelum Bapak itu berkhutbah, saya berdoa kepada Tuhan, dan Tuhan memberikan penglihatan kepada saya tentang seseorang yang dari posisi sangat tinggi diturunkan-Nya sampai ke titik terendah, lalu orang tersebut diangkat jauh lebih tinggi. Lalu, hamba Tuhan tersebut memulai khotbahnya. Terkejut dan terkagum saya, karena di awal khutbahnya, beliau menceritakan suatu ilustrasi tepat seperti yang Tuhan sudah perlihatkan kepada saya beberapa menit/detik sebelumnya, dimana ada seseorang yang direndahkan sampai ke posisi paling rendah sebelum ia bisa diangkat lebih tinggi.

Banyak orang ingin dipakai Tuhan secara luar biasa, tapi tidak banyak orang mau dibentuk Tuhan secara luar biasa. Tuhan tidak bisa memakai orang sombong karena kesombongan bukanlah sifat-Nya, tapi semua orang pasti punya kesombongan. Oleh karenanya, semua orang perlu di"bentuk" - direndahkan hatinya supaya bisa diangkat dan dipakai Tuhan. Yusuf kecil diberi mimpi dimana ia akan menjadi seseorang yang sangat ditinggikan. Namun, setelah diberi mimpi tersebut, ia malah dijual menjadi budak di Mesir oleh kakak-kakaknya sendiri, difitnah oleh isteri bos-nya, masuk penjara, dan dilupakan oleh orang yang ditolongnya. Setelah 'pembentukan-pembentukan' tersebut ia lalui, barulah Tuhan mengangkat Yusuf menjadi pemimpin di Mesir dengan membuat Firaun memberikan seluruh kekuasaannya kepada Yusuf. Singkat cerita, Yusuf membuat Mesir kaya dan menjadikannya tempat persediaan makanan bagi bangsa-bangsa lain yang kelaparan karena bencana, termasuk bangsanya sendiri.

Yusuf kemudian menghadapi kakak-kakaknya yang sudah menjualnya menjadi budak, mereka juga datang ke Mesir untuk mendapatkan persediaan makanan. Kini ia memiliki kuasa, kini ia bisa membalas semua perbuatan keji kakak-kakaknya. Namun, Yusuf tidak melakukannya. Ia malah menangis dan ia berkata kepada kakak-kakaknya: "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar."

Mengapa Yusuf tidak membalas perbuatan jahat kakak-kakaknya tersebut? Ia bisa saja memerintahkan prajurit-prajurit Mesir untuk menangkap mereka dan menjadikan mereka budak. Jawabannya adalah karena proses pembentukan yang sudah Yusuf alami sebelum ia dipromosikan Tuhan. Direndahkan sampai titik terendah dalam hidupnya, Yusuf menyadari bahwa "pemeran utama" dalam hidupnya adalah Tuhan, bukan dirinya sendiri. Sekalipun ia memiliki jabatan yang sangat tinggi dan mungkin ia sangat dendam terhadap saudara-saudaranya, Yusuf memilih untuk “mundur dari panggung utama” dan mempersilahkan Tuhan untuk "mengambil alih acara”. Yusuf sadar betul bahwa rencana Tuhan lebih penting daripada perasaan dan ego-nya. Ia memilih untuk mengampuni, melupakan, dan memberkati orang-orang yang menyakitinya. Keputusan yang hanya mungkin diambil oleh orang-orang yang sudah mengalami pembentukan Tuhan yang luar biasa.

Seperti Tuhan mempromosikan dan memakai Yusuf secara luar biasa, demikianlah Ia sungguh rindu mempromosikan dan memakai kita. Namun, apakah kita mau masuk ke dalam proses pembentukan-Nya? Maukah kita direndahkan sampai titik terendah? The way to go up, is to go down (Jalan untuk naik adalah turun). The way to be a leader, is to be a servant (jalan untuk menjadi seorang pemimpin adalah menjadi seorang pelayan).

Siapakah “pemeran utama” dalam hidup kita? Apakah “film” kehidupan kita adalah tentang 'Tuhan yang mengampuni' atau tentang 'ego kita yang ingin membalas dendam'?

Kemuliaan hanya bagi nama Tuhan.