Friday, June 19, 2015

Mengapa Yesus?

Sangat tidak mudah untuk mengampuni orang yang menyakiti kita. Apalagi orang itu sudah mempermalukan kita, atau mengkhianati kita. Yang saya tahu, luka hati adalah luka yang paling sulit untuk diobati, dan mengampuni adalah 10 huruf yang paling sulit untuk dilakukan. Jauh lebih mudah untuk melakukan “kawan lamanya”, yang juga 10 huruf, yakni menghakimi.

Ada beberapa alasan kenapa menghakimi lebih mudah daripada mengampuni. Pertama, karena kita memposisikan diri sebagai hakim yang merasa lebih benar daripada terdakwa. Menjawab alasan ini, biarlah kita berpikir lagi apakah kita tidak pernah melakukan bahkan yang lebih buruk daripada terdakwa tersebut. Kedua, karena kita merasa kita sudah dirugikan oleh orang yang menyakiti kita. Dalam hal ini, kita memposisikan diri sebagai korban yang berhak menuntut terdakwa. Hanya saja, ada banyak korban lain juga yang bisa saja menuntut kita karena perlakuan kita yang jauh lebih buruk.

Satu hal yang menarik perhatian saya, saya mengenal seorang yang tidak pernah berdosa, sehingga Dia layak menjadi hakim. Dia juga disalibkan karena dosa kita. Oleh karena itu, Dia juga adalah korban yang layak menuntut kita. Namun, pertanyaan besarnya adalah: mengapa dia justru merelakan diri mati bagi kita?

Mengapa Yesus mati bagi saya dan Anda?

Teman-teman, Yesus mengerti hati Bapa yang sangat mengasihi kita. Dia tidak mencium betapa busuknya dosa kita, Diapun tidak mengingat-ingat kesalahan kita. Dia memberikan hidup-Nya untuk kita karena kasih-Nya.

Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. (Yoh 15:13)

Suatu hari, akan ada orang yang bingung ketika kita sungguh-sungguh mengikut Yesus. Mereka akan heran dan bingung kenapa kita tetap mengasihi mereka  bahkan setelah mereka menyakiti kita. Dan mereka akan bertanya: mengapa?

Lagu ini sangat sering saya dengar di gereja ketika kecil dan remaja:

Mengapa Yesus turun dari sorga, masuk dunia g’lap penuh cela;
berdoa dan bergumul dalam taman, cawan pahit pun dit’rimaNya?
Mengapa Yesus menderita, didera, dan mahkota duri pun dipakaiNya?
Mengapa Yesus mati bagi saya?

KasihNya, ya kar’na kasihNya.

Mengapa Yesus mau pegang tanganku, bila ‘ku di jalan tersesat?
Mengapa Yesus b’ri ‘ku kekuatan, bila jiwaku mulai penat?
Mengapa Yesus mau menanggung dosaku, b’ri ‘ku damai serta sukacitaNya?
Mengapa Dia mau melindungiku?

KasihNya, ya kar’na kasihNya

Hal yang menarik di lagu ini adalah tidak ditanyakan “mengapa saya?” tapi “mengapa Yesus”. Sebab tidak ada alasan yang membuat saya layak untuk diampuni. Perbuatan baik saya tidak akan bisa menyelamatkan saya. Amal dan ibadah tidaklah cukup untuk menghapus kesalahan saya. Hanya karena kasih-Nya.

To love, is to forgive…and to be loved is to be forgiven. Amen? God bless you!

Tuesday, June 16, 2015

Anchor. Helper.

When I faced a lot of uncertainty in the future, I sometimes began to worry.
Often, I will feel stressed. Being pressured from every directions, I couldn't sleep.
I looked at men and women, hoping for their help.
But, I couldn't find it. I even tried to handle my stress by spending my time in the social media. That too, is useless.

But one day, God spoke to me. He told me that He is my helper. No one else can help me like he can. God showed me how the psalmist understood this:
I lift up my eyes to the mountains -  where does my help come from? My help comes from the Lord, the Maker of heaven and earth (Psalm 121:1-2)
And peace overwhelmed me. Peace like no other peace. Peace from God.

The day after, I began to think about another uncertainty. I began to worry again.
The Lord then spoke to me that the future may be uncertain, but my hope in Him is certain, firm, and secure.
We have this hope as an anchor for the soul, firm and secure. It enters the inner sanctuary behind the curtain, where our forerunner, Jesus, has entered on our behalf. (Hebrew 6:19-20a)
God is my anchor. Whatever the future I will face, I don't mind. As long as God is with me, everything will be okay.

Beloved, when the uncertain future terrifies you, put your trust in God, your anchor, your helper. Glory to God. Amen.

Friday, June 5, 2015

Percaya Saja!

Ada waktunya ketika apa yang kita lihat tidaklah seperti yang kita harapkan. Di waktu tersebut, kita mungkin merasa bahwa Tuhan tidak menepati janji-Nya. Mungkin kita mulai meragukan kebaikan-Nya. Tapi, bukankah Dia Bapa yang baik? Yang tahu memberikan yang terbaik untuk anak-anak-Nya?

“Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga!” (Lukas 11:11-13b)

Rhema yang saya dapatkan dari ayat ini adalah: Bapa di Sorga tidak akan memberikan ikan, apalagi ular kepada anak-anak-Nya. Ia juga tidak akan memberikan telur, apalagi kalajengking kepada anak-Nya. Bapa yang baik jauh lebih tahu apa yang anak-anak-Nya butuhkan, bahkan Ia lebih mengerti apa yang kita butuhkan daripada kita sendiri mengerti kebutuhan kita.


Saya teringat betapa kecewanya saya ketika ditolak perusahaan minyak yang sangat saya idam-idamkan. Waktu itu saya berdoa bersama keluarga untuk pekerjaan saya, dan Tuhan memberikan suatu penglihatan akan suatu pelabuhan. Saat itu saya tidak mengerti penglihatan ini. Namun, setelah berdoa saya membuka email bahwa ada lowongan di BUMN bernama Pelabuhan Indonesia 2. Sebelumnya saya bahkan tidak tahu bahwa ada perusahaan seperti ini di Indonesia. Singkat cerita, saya diterima di perusahaan tersebut, dan saat ini perusahaan tersebut menjadi salah satu sponsor saya untuk berangkat S3. Seandainya saya diterima di perusahaan minyak terkenal itu, apakah saya akan S3? Saya ingat ketika interview di perusahaan tersebut, mereka tidak suka dengan keinginan saya untuk lanjut S3 (ini mungkin adalah salah satu alasan mengapa saya tidak diterima).

Tuhan itu tahu lebih baik daripada saya. Dia jauh lebih mengerti saya daripada saya mengerti diri saya sendiri. Rencana Tuhan selalu jauh lebih indah daripada rencana kita. Bagian Dia: MERENCANAKAN. Bagian kita: PERCAYA.

“Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yes 55:9)

Bentuk pengandalan kita akan Tuhan adalah berdoa, berharap kepada-Nya, merenungkan janji-janji-Nya (Firman Tuhan), dan percaya. Percaya bahwa Dia adalah Bapa yang baik, yang tidak akan meninggalkan kita sendiri, yang akan memenuhi semua kebutuhan kita. Amin.

Saat ku tak melihat jalanMu
Saat ku tak mengerti rencanaMu
Namun tetap kupegang janjiMu
Pengharapanku hanya padaMu

Hatiku percaya
Hatiku percaya
Hatiku percaya
S'lalu kupercaya

Beloved, He is the best Father. He cares for you. Just believe!
Glory to GOD!

pics from http://nicholasmazzoli.com/wp-content/uploads/2009/12/father-and-son1.jpg

Tuesday, March 3, 2015

“Apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit?”

Kehilangan handphone itu satu hal. Tapi kehilangan handphone di rumah sendiri adalah hal yang aneh. Tim SARpun (Mama dan Bibi) kukerahkan untuk mencari 1 handphone di rumahku yang sebenarnya tidak terlalu luas. Satu dua hari habis, tapi handphone itu tetap tidak dapat ditemukan. Aku sudah mencoba meneleponnya tetapi aku teringat bahwa handphoneku ku-set silent tanpa getaran.

Pencarian itu berakhir pada penyerahan. Memang dalam hidup manusia itu, semua pasti ada waktunya. Pengkhotbah berkata: Ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi (Pkh 3:6), dalam Bahasa Inggris: a time to search and a time to give up (Ecc 3:6-NIV). Benar, waktu mencari handphone itu sudah kulewati, kini waktunya untuk berserah.

Malam itu, Tuhan ingatkanku untuk memberi perpuluhan (sepersepuluh dari penghasilanku). Aku ingat aku kirimkan uang itu ke seseorang yang sedang membutuhkan melalui Mandiri Online Banking. Begitu kuklik ‘send’ untuk mentransfer, aku tekaget mendengar bunyi “Gerrrt.. gerrtttt”. Ternyata itu dari handphone-ku yang sudah kuanggap hilang. Aku lalu mencarinya dan menemukannya di tempat persembunyiannya. “Kenapa kali ini handphone itu bergetar?”, pikirku, padahalkan sebelumnya ia tidak bergetar ketika ditelepon. Lalu aku tersadar bahwa handphone itu tidak bergetar bila ditelepon, tapi bergetar ketika di-SMS. Ya, benar, ia bergetar karena SMS dari “3355” Bank Mandiri yang menotifikasi bahwa perpuluhan tersebut sudah ditransfer. Siapa yang menyangka bahwa bukan aku yang menemukan handphone itu, tapi handphone itu sendiri yang memberi diri ditemukan.

Cerita ini membuatku ingat akan kata-kata Tuhan dalam Maleakhi 3:9-10:

Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan. Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu, firman TUHAN semesta alam.

Tuhan adalah pemberi. Begitupun kita anak-anak-Nya suka memberi. Sebab Isa pun berkata: “adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.” (Kis 20:35b). Ini berarti, Tuhan lebih suka memberi daripada menerima, dan kitapun anak-anak-Nya haruslah demikian.

Baru-baru ini aku mengalami “tingkap-tingkap langit” itu dibukakan kembali bahkan dalam keadaanku yang kurang yakin. Aku banyak berpikir dan merenung tentang banyaknya pengeluaran untuk mempersiapkan pindah rumah di Inggris, aku menghitung-hitung apakah uang beasiswanya cukup. Aku sempat tergoda untuk tidak memberi perpuluhan dari British Pounds yang mahal ini, karena aku merasa kekurangan. Karena aku ingin lebih banyak saving. Tapi, Tuhan selalu ingatkan: “...ujilah Aku…” “…apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit…” Kata-kata-Nya itu membuat aku setia untuk tetap memberi perpuluhan, sekalipun merasa kurang.

Dan betul! Hebat Tuhan kita itu, baru-baru ini aku mendapat kenaikan dalam uang beasiswa yang sangat melegakan hati. Dosen-dosen sering mempercayakanku untuk membantu mereka dan universitas menggaji setiap jam kerjaku. Aku hanya bisa katakan “AMAZING GOD”. Selama ini, aku selalu berpikir tentang diriku: “bagaimana kalau nanti kurang?” tapi Tuhan mengingatkanku bahwa hidup adalah memberi dan Tuhan tidak pernah berhutang.

Dalam hal perpuluhan ini, Tuhan Semesta Alam sendiri sudah menantang kita untuk menguji Dia (“…ujilah Aku…”) dan Ia sendiri juga sudah mengatakan “…apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit…” Tuhan tidak pernah berbohong. Beri, maka engkau akan diberi!

Bahkan, milikilah iman yang sama seperti seorang janda miskin yang memberi seluruhnya kepada Tuhan, itu dilakukannya dalam keadannya yang berkekurangan (Lukas 21:43-44).

Lalu Ia (Isa) berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.”


Mungkin, memberi di saat  engkau merasa kekurangan bertentangan dengan logika / akal sehatmu. Namun, Tuhan yang menghargai iman janda miskin itu adalah Tuhan yang sama yang menghargai iman saya dan Anda.

Bagaimana, sudah siap memberi dan melihat tingkap-tingkap langit dibukakan dalam hidupmu?  

Beloved, God never lies to you. Give and you will receive!

Friday, February 27, 2015

Terlalu sulit bagi saya, terlalu mudah bagi Dia

Setelah lama saya tidak menulis, saya tidak kuasa untuk menahan diri dari menceritakan bagaimana Tuhan sekali lagi menyertai saya. Oh ya saya ingin ralat, menyertai kami (saya dan isteri).

Tawaran Pak Direktur

Bagaimana saya memulai setelah sekian lama tidak menceritakan kebaikan-Nya.. Hmm, mungkin dengan menceritakan peristiwa yang terjadi di tempat kerjaku beberapa bulan yang lalu. Waktu itu, saya menyampaikan surat pengunduran diri ke Pak Direktur, karena Tuhan memberikanku apa yang kuingini selama ini, yakni beasiswa S3 di luar negeri. Pak Direktur, mempersilahkanku masuk ke ruangannya yang besar, dan ketika saya sampaikan ingin resign, beliau membujukku untuk stay. Lalu, beliau berpikir sejenak, dan menawarkanku promosi, yang berarti gaji bulananku naik 2x lipat. Tidak hanya itu, beliau mendukung saya untuk tetap studi S3 dengan tetap menerima gaji tersebut.

Saya benar-benar tidak menyangka, saya hanya diingatkan Tuhan untuk memberi yang terbaik dalam pekerjaan yang selama ini cukup membuat saya bosan. Tapi disitu Tuhan ajarkan saya untuk setia dalam perkara kecil. Disitu Tuhan ingatkan agar saya beri yang terbaik. Saya tidak tahu sama sekali bahwa Tuhan bermaksud mempromosikan saya ketika saya melakukan hal-hal kecil itu. Kini saya sadar, bahwa ketika kita taat, bahkan taat dalam perkara terkecil sekalipun, Tuhan itu setia menggenapi firman-Nya:

Lukas 16:10 Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar..

Isteriku Menegur Pak Lurah

Pagi itu mama, saya, isteri, dan sopir pergi ke kantor lurah karena kami perlu Kartu Keluarga yang baru untuk mengurus visa pada siang harinya. Kami butuh mujizat karena Pak Lurah tidak ada di tempat dan waktu kami semakin singkat ke jam appointment pengurusan visa. Kami semua stress berat di kantor lurah menunggu Pak Lurah yang khusus hari itu sangat kami rindukan. Lalu sopir kami mengidentifikasi seorang pejabat yang lalu membantu kami agar kami nyusul ke kantor tempat Pak Lurah yang sedang rapat. Pak Lurah lalu meninggalkan ruang rapat, dan hendakimage menandatangani KK tsb, tapi hampir-hampir beliau salah tandatangan, sampai2 isteri saya refleks menegur beliau. Kami lalu bergegas ke tempat pengurusan vsia, namun nyasar dan hampir-hampir tidak bisa sampai tepat waktu. Tapi, lagi-lagi, Tuhan kami adalah the master of timing sehingga kami datang di waktu yang tepat. Sekalipun kami harus “lari-lari” mengejar lurah, sekalipun isteriku terpaksa menegur beliau, sekalipun kami nyasar, tapi Tuhan yang kami sembah tidak pernah lalai menepati janji. Sebab Firman Tuhan berkata:

Ibrani 113:5b "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau. "

Kejadian 39:2a “Tetapi TUHAN menyertai Yusuf sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya”

Mencari Rumah di Manchester

Siapa bilang mudah untuk mencari rumah untuk saya, isteri dan mempersiapkan tempat tinggal bagi si kecil yang masih dalam kandungan? Kami sudah keliling, tanpa hasil. Ada yang menyampaikan bahwa pemilik tanah tidak mau ada anak kecil. Yang lain tidak bisa turun harga. Yang lain malah menomor 2 kan kami, padahal sudah hampir deal. Tapi hari ini, ketika kami bersaat teduh, ada sesuatu yang berbeda. Tuhan ingatkan kami untuk menyanyikan lagu El Shaddai, Tuhan Maha Besar. Dia Maha Kuasa.Ternyata, El Shaddai itulah yang menjawab doa kami dengan kuasa-Nya.

Siang hari sebenarnya kami sudah survey rumah lagi, namun ternyata rumah itu terlalu kecil bagi kami, dan kami sempat putus asa. Tapi, ternyata itu adalah cara Tuhan untuk menyadarkan kami bahwa Tuhanlah yang membuka jalan dan bukan karena usaha kami sendiri. Padahal, saya sudah hampir tidak jadi mensurvey rumah yang lain karena telat, namun bus itu tiba-tiba datang dan mengantar saya ke tempat yang Tuhan sudah sediakan. Landlord (pemilik properti) tersebut sebenarnya sudah mendapatkan tawaran dari calon penghuni yang lain. Namun, dia menginginkan  agar kami yang tinggal di rumahnya. Ajaib bin ajaib, rumah itu 4 menit jalan kaki dari rumah sakit yang direncanakan untuk persalinan isteri, dan 7 menit jalan kaki dari pasar favorit belanja kami, dan dekat juga dengan universitas, dan harganyapun cukup terjangkau.

Saya teringat kembali akan betapa sulitnya saya mencari rumah. Ini membuat saya seperti tidak percaya semua terjadi hari ini dengan begitu mudahnya. Terkadang, saya merasa bahwa Tuhan ingin menunjukkan kepada saya bahwa hal yang terlalu sulit bagi saya, itu terlalu mudah bagi Dia. Ia mengingatkanku pada lagu yang tadi pagi kami nyanyikan, yakni bahwa Ia itu adalah El-Shaddai, Lord God Almighty.

Kel 6:2-3 Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: "Akulah TUHAN. Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri.”

Aku percaya bahwa TUHAN yang kusembah adalah El-Shaddai, Allah yang penuh kuasa. Namun, aku juga percaya bahwa Dia adalah Bapa, yang menyertaiku selalu. Kasih setia-Nya besar dan mujizat-Nya melimpah bagiku. Waktu-Nya adalah indah. Terlalu indah, sampai sering sekali aku tidak bisa memahami keindahannya sebelum semuanya menjadi nyata.

Beloved, God Almighty is with you.

Thursday, February 19, 2015

Setia dalam perkara kecil

Tidak ada hal yang besar yang tidak lahir dari hal-hal yang kecil. Apabila seorang ingin melakukan hal yang besar, ia harus memulai dari setia dalam hal kecil. Hidup adalah sebuah rumah indah yang sudah didesain oleh Arsiktek Agung. Namun, bangunan rumah itu tidak akan terwujud tanpa pasir-pasir kecil dan tetes-tetes keringat hari demi hari.

Tuhan Yesus berkata: "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10). Daud memulai dengan menggembalakan domba sebelum menggembalakan bangsa Israel. Yusuf mengatur rumah tuannya dan mengelola penjara sebelum mengatur Mesir.

Jangan remehkan hal kecil. Hal kecil adalah awal dari hal besar. Hal kecil adalah pendidikan yang ingin Tuhan ajarkan sebelum kita melakukan hal yang besar.

Beloved, God loves you.

Sunday, March 31, 2013

Penjara Bintang Lima Bernama “Masa Lalu”

“Hari ini Saudara BEBAS! Nikmatilah hidupmu, saya harap kita tidak akan berjumpa lagi di tempat ini!”, tegas seorang polisi kepada seorang narapidana. Aneh bin ajaib, napi itu tertunduk lesu, tak mau beranjak dari sel penjaranya. Maklum, penjara itu begitu indah, rapih, VIP class, penjara bintang lima.

Polisi akhirnya memaksa dia keluar, namun napi itu tetap tak beranjak. Sampai-sampai mereka harus menyeretnya. Namun, setelah keluarpun, napi itu malah menutup matanya. Ia membayangkan masa lalunya di penjara bintang lima. Lalu ia tersenyum bahagia. Bisiknya: “Oh penjara bintang limaku, rumahku sampai mati.”

Mungkin kita tergoda untuk menertawakan napi bodoh ini. Namun, sadarkah kita terkadang tidak lebih pintar dari dia?

***

Empat-puluh-lima hari mereka keluar dari tanah Mesir setelah 430 tahun diperbudak. Bersyukurkah bangsa Israel?

"Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan." (Kel 16:3)

Mesir adalah “penjara bintang lima” bangsa Israel. Mereka rindu kuali berisi daging, mereka rindu makan roti sampai kenyang. Bagi mereka, itu jauh lebih berharga dibandingkan kebebasan di padang gurun. Mereka merindukan masa lalu mereka.

Namun, Tuhan setia, Ia menyediakan manna (hujan roti) bagi bangsa ini, supaya mereka rendah hati. Supaya mereka live day by day by depending on God’s provision, and not on their own strength (Ulangan 8:16-18). Hari demi hari berjalan bersama Tuhan, melihat mujizat-Nya. Bukankah itu tempat yang jauh lebih indah ketimbang penjara bintang lima atau enam sekalipun?

***

Hari ini aku diingatkan untuk mengucap syukur akan masa kini (present), dengan tidak membanding-bandingkannya dengan masa laluku yang tampaknya lebih indah.

Aku merenungkan kisah Yusuf. Seandainya saja dia mengingat-ingat masa lalunya yang sangat nyaman di rumah ayahnya, lalu membanding2kannya dengan penjara (bukan bintang lima) yang ia alami. Seandainya saja itu membuatnya menyerah dan bunuh diri ketika menjadi budak, apalagi ketika difitnah dan dipenjara. Akankah ia menjadi pemimpin Mesir? Akankah keluarganya selamat? Akakankah ia tetap dipakai Tuhan untuk maksud penyelamatan?

Firman Tuhan berkata: “Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!” (Mzm 118:24). Aku mau bersyukur untuk hari ini, sebab Tuhan sudah menjadikan hari ini untukku. Satu hari lagi aku berjalan dengan iman bersama Dia, sekalipun itu di padang gurun “ketidakpastian”. Namun, aku tidak takut bahaya sebab Dia besertaku. Selamat tinggal penjara bintang lima “masa lalu”. Selamat datang “hari ini”. Hari yang dijadikan Tuhan ini pasti yang terbaik bagiku. PUJI TUHAN! Amin.

When  the beauty of your past tempts you to grumble on today’s hardships, remember this verse: “This (TODAY) is the day that the LORD has made, let us rejoice and be glad in it.”

Glory to God

pics taken from https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhFoxkaaXTEEnm9rcPQnhsm7bNwCviJTY36eT0aihvBRMPDOZPjWgWiHzjsGbLgSGkShZslrkf36GlhoVNa_Pex5wZqv04ZfMQSKfbJoQQF6-OXn-a0Y3DS7-ii2sOjqzNRG0BSWcwlHHc/s1600/BibleinJail.jpg