Tuesday, October 16, 2012

God Wants to Speak With You

Few days ago, I was walking towards the university and I was thinking about my application to continue my study. I need 2 or 3 lecturer’s recommendations to satisfy one of the university’s requirements, but currently I do not have any. Then, I said to myself: “If just, when I continue walking, I would meet my lecturer, Paul, it would be good so that I can ask his recommendation.” Few minutes later, I was surprised and really happy to meet Paul at the street walking towards me. Indeed, I asked him to be my referee, and he said yes.

I believe that our God hears EVERY prayer. It is up to Him to answer “YES” quickly, slowly, or even say “NO” as He knows that He has something better for us. Our God, He still answers prayers. Jesus said "Ask and it will be given to you; seek and you will find; knock and the door will be opened to you.” What a wonderful promise. It is sad though when sometimes, we do not want to pray because we think it is just unnecessary or a waste of time. We are not only missing the solutions to our problems, but moreover we’re missing the opportunity to communicate with our God.

One might ask: “does He only listen? can He speak?”

Some days later, when I was praying. A whisper came into my heart: “be still”. I knew it was God. I prayed and a song came up to my mind. I remember that many years ago, king David sang this song:

“The Lord is my shepherd, I shall not want. He makes me to lie down in green pastures, He leads me beside the still waters.  He restores my soul, He leads me in the paths of righteousness for His name’s sake. Yea though I walk through the valley of the shadow of death, I will fear no evil; for You are with me; Your rod and Your staff, they comfort me.” (Psa 23:1-4 NKJV)

Just as King David, I sang the song. I sang “You are a good Shepherd, You lead my life, and lead me beside the still waters and restore my soul. Though I walk in the valley of the shadow of death, I will not fear, for You are with me.”

Finished singing, I opened my bible. As I opened my bible, I was surprised, it was Psalm 23: “The Lord is My Shepherd”!!!

Here’s what I know, our God is not a silent God. He is a speaking God. But, a voice can be heard when there is someone speaking and someone listening. When God speaks, will you listen? The bible is the word of God, but it can only be heard when we open it and read it with our heart thirsting after Him. If you are not thirsty, ask for it. Ask God for the thirst and hunger after Him.

These stories are facts for me, but my prayer is that we all have different stories with God. We all leave our sinful life and turn back to our loving God. No matter how sinful we are, God is able to forgive and deliver us from the bondage of sin. However, that requires trust. That requires one trusting Him and His grace through the sacrifice of His Son, Jesus Christ, instead of trusting his/her own strength.

God loves you, and He wants to speak with you.

The brand of a pen is not written in the bibliography, it is only the author’s name.
Glory to God.

Sunday, October 7, 2012

No More Discount

If you buy a house for $1,000,000,000; would you sell it for $1? Now, you believers were bought not by silver nor gold, but by the precious blood of Jesus. Would you sell yourself, your vision, your God for any sum of money or fame? Would you sell your heavenly and eternal gifts for an earthly and temporary wealth?

Feeling worthless and no one appreciate you? take a look at the cross. Someone shed His precious blood for you. Not as a license to do sin, but as an atonement to free you from the chains you have. So that you may live a life worthy to be lived.

Take a look at the cross, and remember this. If you forget all things, remember this. Jesus died for you to give you freedom from the bondage of sin so that you may glorify GOD.

(inspired by 1 Pet 1:18-19)

Glory to God

Tuesday, October 2, 2012

WHOLE

david

When the world and myself see me as incomplete, Jesus Christ sees me wholly. I am whole, a complete man, lack nothing as His love is more than enough for me.

Praise my God.

Wednesday, September 19, 2012

Today’s Love Story

I  believe that my God is a romantic God. He is a writer of our love story, He never stops.

I used to tell you about miracles. How God did some “unusual” stuffs in my life. How He listened even to my unsaid prayers. How He spoke about something in the future. Haha. I was going to say that in this writing I will not tell you miracles, but having wrote the last sentence, a story struck my mind. It happened in a night at Bandung City, Indonesia.

I was praying, and the Holy Spirit told me: “pray for your brother! pray for his work!” I did not know any updates about my brother’s work at that time. I just prayed. And God gave me faith, something powerful in my prayer, I could feel it. I did not see it, but I felt it.

One or two days later, my parents informed me that my brother was promoted in his job! It was not about my prayer, but it was about His grace to let me know how He loves me. How he wanted to use me to support my brother. Glory to my Father.

Tonight, I just want to share that bitterness, worry, disappointment could cause us to forget who our God is. When I am worry, I forget who my God is. When I am bitter, I also forget who He is. Same thing with disappointment.

God is there and He is our Father, our Friend, our Lover, our LORD! God cares. God is with us all the time. He gave His beloved Son, Jesus Christ for us. Why worry? Why disappoint? Why bitter? A prayer erases all those unnecessary things.

Tonight, I did not see miracles, but I see God. I see Him, that He is here in my room with me. I know this may not be a WOW story. But, His presence gives me joy, peace. Whenever you are alone, call Jesus, He cares for you.

Amen.

The brand of a pen is not written in the bibliography, only its writer’s name.

Friday, September 14, 2012

Baju yang terobek-robek

Aku merenung tentang seseorang yang memberikan seluruh hidupnya untuk Tuhan. Namun, alhasil penderitaan dia alami. Penganiayaan datang. Dia ditolak keluarganya sendiri. Bahkan dikhianati orang-orang terdekatnya. Aku merenung.

Salahkah aku untuk bertanya: “Apakah keadilan itu ada?”

“Ya, itu salah.”

Kembali aku merenung. Kupandang baju yang indah, sebuah tuxedo. Keren, bagus, dan mahal, baju yang membawa kebanggaan. Kalau tidak hati-hati, kesombongan.

Lalu kupandang baju yang terobek-robek. Bisa dibuang karena tidak ada gunanya...

Menanggapi perenunganku ini, Alkitabku berkata: “Oya?”

***

Seorang Yusuf dengan jubahnya yang maha indah. Hikmat dan mimpi-mimpinya yang istimewa, begitu dikarunia (gifted). Pintar dan kaya! Alhasil? Saudara-saudaranya sendiri membenci dia. Ya, mimpi2 Yusuf bahwa dia akan diangkat tinggi melebihi saudara-saudaranya bukanlah sebuah good news bagi mereka yang iri kepadanya.

Namun, setelah jubah maha indahnya dirobek-robek; Yusuf memang dijadikan budak. Yusuf memang masuk penjara. Yusuf memang difitnah. Namun, lihatlah akhir hidupnya. Seorang yang dipakai Tuhan untuk menyelamatkan keluarganya, bangsanya, bahkan bangsa-bangsa lain dari kelaparan. Mau dipakai Tuhan besar? Harus mau ‘dirobek-robek’. Mau jadi pemimpin di tanah Mesir? Jangan tolak profesi ‘babu’ dan ‘narapidana’ yang ditawarkan-Nya untuk mendidikmu!

Seorang nabi bernama Yeremia pernah dimasukkan ke dalam sumur berisi lumpur (bukan air). Mau tau apa yang dipakai Tuhan untuk menyelamatkan dia? Tuxedo? NO! Giordano? NO! NO! NO! NO! Tuhan pakai pakaian-pakaian buruk dan yang dirobek-robek untuk menyelamatkan Yeremia (Yer 38:1-13). Pakaian-pakaian inilah yang dijadikan ganjal tali untuk menyelamatkan nyawanya DAN nyawa banyak orang dari bangsanya (nubuatan Tuhan melalui Yeremia membawa keselamatan bagi bangsa Israel yang taat).

Mengapa bukan jubah indah yang dipakai Tuhan untuk membawa keselamatan? Mengapa bukan jas “Pierre Cardin”? Mengapa bukan tuxedo? Karena orang sombong tidak bisa dipakai Tuhan. Hanya mereka yang dirobek-robek, mereka yang mau diproses, mereka yang remuk hati, mereka yang tertolak (mungkin sudah habis pride-nya), mereka yang merendahkan dirinya; merekalah yang bisa dipakai.

Pandang Yesus, Juruselamat kita. Lihatlah pada salib. Apa yang kamu lihat? Seseorang dengan jas indah? Dengan dasi mewah? Sepatu mahal? Tidak. Aku melihat seseorang yang remuk hatinya dan buruk rupanya (bukan seperti manusia lagi (Yes 52:14)). Bukan baju luar, tapi kulitnya sendiri, dagingnya sendiri yang dirobek-robek. Bahkan, hatinya terluka dikhianati orang-orang terdekatnya. Ditolak, dihina, diludahi, tidak diakui keluarganya sendiri. Dia yang menyembuhkan banyak orang sakit, mengapakah Dia tidak menyembuhkan diri-Nya sendiri? Dia yang mengobati luka hati orang-orang, mengapakah Dia biarkan hati-Nya dirobek-robek? Karena kamu dan aku ada di pikiran-Nya. Ia merelakan daging bahkan hatinya dirobek-robek, supaya kita diselamatkan.

***

Maukah kau jadi roti yang terpecah bagi-Ku?
Maukah kau jadi anggur yang tercurah bagi
-ku?
Maukah kau jadi saksi memb'ritakan injil
-Ku?
Kalau mau,,,,
Melayani mengasihi lebih sungguh.

Ketika kau merasa tak berharga seperti baju robek itu, jangan kuatir. Ketahuilah Tuhan yang baik sedang membentukmu. Dia sedang mempersiapkanmu melakukan perkara-perkara-Nya yang besar dan ajaib, yang membawa keselamatan bukan hanya bagimu, tapi bagi keluargamu, bangsamu, bahkan bagi bangsa-bangsa lain.

I learned this from David, one of my best friend in the Bible:
“Apa yang ditolak manusia, dipakai Tuhan.”

Merk sebuah pena tidak dicantumkan di daftar pustaka, hanya nama penulisnya.

-Glory to God-

Sunday, August 26, 2012

ZzzzZZZZzzzZZZzzz

Beberapa hari yang lalu aku bergumul dalam tidurku. Malam sudah terlalu larut, namun aku tak bisa tidur. Tulangku sakit, nafasku sesak, aku bahkan harus membuka mulutku untuk bernafas. Godaanpun datang: “Kutuki Tuhanmu. Senangkan dagingmu, toh Dia juga tidak menolongmu. Berontaklah.” kata si ular tua.

Daging ini lemah, aku benar2 di ujung tanduk. Pagi itu aku benar2 menderita.

Sebuah bisikan lembut lalu datang, siapa lagi kalau bukan Roh Kudus, Penolongku. Dia berbisik: “mengucap syukur”. Ya Dia ingatkan aku, sekalipun aku harus mati di tempat tidurku, aku harus tetap mengucap syukur. Toh matipun bakal masuk Sorga, itu janji Dia. Oh yeah, semua cita2ku untuk lulus S2 dan pikiranku tentang tugas akhirku seperti hilang pagi itu. Semua hilang kecuali rasa sakit dan bisikanku kepada Tuhan: “Tuhan Engkau baik. Apapun yang terjadi, Engaku tetap baik. Tuhan Engkau baik. Engkau baik.”

***

Suatu hari Daud yang sedang menjadi buronan kerajaan harus menghadapi Akhis, raja kota Gat. Daud punya kenangan manis dengan kota Gat. Ingat ketika dia mengalahkan Goliat dengan gagah berani? Ya, Goliat, si raksasa itu adalah juga dari kota Gat. Namun, ketika Daud bertemu raja Akhis, kenangan manis itu menjadi tragis.

Keberanian Daud terhadap sang raksasa sama sekali tidak terlihat ketika dia menghadapi Akhis. Tahu apa yang dia lakukan? Dia pura2 gila! Menggores2 pintu gerbang, liurnya dibiarkan meleleh di jenggotnya. Mungkin ini adalah salah satu titik terendah dalam hidup seorang Daud.

Dikejar2 Saul, takut dibunuh Akhis, dan harus pura2 gila untuk menyelamatkan hidupnya. Semua itu Tuhan ijinkan terjadi pada hidup Daud, seorang yang sangat dikasihi-Nya. Padahal Tuhan juga kan yang berjanji akan menjadikan Daud raja.

Bagaimana Daud memandang salah satu ‘titik terendah’ dalam hidupnya?

“Dari Daud, pada waktu ia pura-pura tidak waras pikirannya di depan Abimelekh (Gelar Raja Akhis), sehingga ia diusir lalu pergi. Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku. Karena Tuhan jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita. Muliakanlah Tuhan bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memashyurkan nama-Nya! Aku telah mencari Tuhan, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku. Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu.” (Mzm 34:1-6)

Daud mengerti arti dari memuliakan Tuhan, uniknya adalah ketika dia begitu direndahkan. Pujian sejati lahir dari seorang yang merendahkan diri. Pujian sejati bukan lahir dari berkat yang melimpah, pujian sejati lahir dari tahu siapa Dia dan siapa saya. Ia lahir dari kesadaran bahwa semua boleh diambil, asal jangan Dia. Pujian sejati lahir dari: ‘satu-satunya alasanku bermegah ialah karena Tuhanku’.

***

Seperti Daud, aku diajar Tuhan untuk berkata: “puji-pujian kepada-Nya tetap di mulutku”. Waktu susah? Waktu senang? Waktu semua lancar? Waktu jalan tertutup? Waktu badan sakit2? Waktu ngga bisa nafas? “puji-pujian kepada-Nya tetap di mulutku”.

“Tuhan, Engkau baik…. Engkau baik… Engkau tetap baik… ZzzzZZZZzzzzZZZZzzzz”
–ujian ‘puji-pujian kepada-Nya tetap di mulutku’  selesai untuk hari ini, tidurlah David :)-

Merk sebuah pena tidak dicantumkan di daftar pustaka, hanya nama penulisnya.

-Glory to God-

info tentang Akhis adalah juga Abimelekh ada di http://www.tidings.org/studies/psalm34200009.htm

Tuesday, August 21, 2012

Buku Tabungan Tuhan

Hellowww… :p. Beberapa hari yang lalu, entah darimana,, timbul perenungan di hatiku yg membuat bibirku ini tersenyum sinis. Wkwkwk. Perenungan apakah itu?

Aku merenung tentang 2 tahun yang kuhabiskan sebagai seorang guru les matematika dan fisika. Dua tahun pembentukan dimana Tuhan pakai hamba-Nya utk memuridkan dan membagikan firman-Nya. Di masa2 itu, aku ngga banyak mengumpulkan uang, bahkan tabunganku mendekati 0 Rupiah bisa dibilang setelah 2 tahun mengajar. Namun, jangan salah paham, aku tidak berkekurangan karna Tuhanku itu setia.

Beberapa hari lalu aku merenung, kenapa aku melakukan semua itu? “Buku tabungan bersaldo hampir 0, ckckck” aku hanya tersenyum, tersenyum sinis. Dan spertinya tidak ada yang tahu apa yg ada dibalik senyumanku ini.

No one knows, but God.

Besoknya, aku datang ke Gereja, dan seorang hamba Tuhan membagikan sebuah firman mengenai CV yang dikehendaki Tuhan. Lucunya..hehehe. lucunya, oh Tuhan itu memang suka becanda sama aku. Lucunya, hamba Tuhan itu mengungkit tentang saldo buku tabungan di khotbahnya. Lalu dia bilang kira2 gini: ‘bukan itu yang utama’. Kali ini, aku tidak tersenyum sinis, tapi menahan tangis :p.

Sejujurnya, aku kepengen si punya banyak duit. Tapi,,, kalau kulihat2, dan kutimbang2, dan kurenung2. Orang yang punya banyak duit di dunia ini, belum tentu punya banyak “duit” di Sorga nanti. Firman Tuhan berbunyi “Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.” (Luk 12:21).

Lalu…

"Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” (Mat 6:19-20).

Dan lagi….

“Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." (Luk 12:33-34)

Hmmm, lalu apakah salah jadi orang kaya? Abraham kaya. Salomo kaya. Yusuf juga, dan Kristus yang kaya menjadi miskin supaya kita kaya. Tidak salah menjadi orang kaya itu. Dan bukan hanya tidak salah, tapi itu benar! Sudah nasib bagi orang yang di-benarkan-Nya untuk juga di-kayakan-Nya. Sebab Tuhan berbicara dalam Mazmur 37:25-26: “Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti; tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat.”

Renungkanlah Firman Tuhan dan kamu akan mengerti, kekayaan bukanlah untuk menyenangkan dirimu sendiri. Kekayaan sejati adalah “tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat”. Kekayaan sejati ialah “juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah”. Oh teman2, tahukah kalian tabungan di Sorga itu bukanlah dari apa yang kita kumpulkan, tapi apa yang kita berikan?

Aku diajar ayahku soal memberi. Aku ingat ketika kami ditipu dan uang kami hampir habis. Waktu itu aku masih remaja, aku ingat kami punya buku perpuluhan warna coklat. Tuhan ajar kami untuk memberi, ya untuk tetap memberi! Dan memang Tuhan tidak pernah berhutang, bukan hanya orang2 lain diberkati, tapi kami juga diberkati dengan tingkap2 langit yang Ia bukakan. Sampai sekarang aku bisa kuliah di Inggris tanpa beasiswa, why? Because my GOD is an amazing GOD! Apakah kami sempat berpikir soal kuliahku? Tidak. Tapi Tuhan kami adalah Tuhan yang ‘ajaib bukti’, bukan ‘ajaib teori’. Dia adalah Tuhan “Ya dan Amin” bukan “kalau nggak salah dan ah masa sih”. Dia sanggup melakukan jauh lebih banyak daripada apa yang kami doakan atau pikirkan. Namun, namun, namun… yang terutama bukan soal kuliah di luar negeri, atau apapun yang tampak keren di mata manusia… but how can we give more?

TO LIVE IS TO GIVE. PRAISE GOD! :)

Merk sebuah pena tidak dicantumkan di daftar pustaka, hanya nama penulisnya..

-Glory to God-