Monday, July 20, 2015
What ‘trusting God’ means to me
When I say I trust God, it means that my daily activities and relationship to him and others are not determined by my ever-changing feelings.
When I say I trust God, it means that my worries about the future and guilt from the past do not change the fact that He loves me and forgives me, He has and always has His best plan for my life.
When I say I trust God, it means that my life is no more mine. It is completely His, and it is for His glory. By depending on Him every day, every hour, every second, I leave my old self and decide daily to live a new life according to His will.
When I say I trust God, it means that I believe in Him. I believe in His ways, His promises, His plans, His directions, His presence, His words, His love, His forgiveness. I believe He has a better life for me to live now and later in eternity. I believe that He will always be with me when things are going well and when I struggle.
Many are the woes of the wicked, but the Lord’s unfailing love surrounds the one who trusts in him. (Psalm 32:10)
Friday, June 19, 2015
Mengapa Yesus?
Sangat tidak mudah untuk mengampuni orang yang menyakiti kita. Apalagi orang itu sudah mempermalukan kita, atau mengkhianati kita. Yang saya tahu, luka hati adalah luka yang paling sulit untuk diobati, dan mengampuni adalah 10 huruf yang paling sulit untuk dilakukan. Jauh lebih mudah untuk melakukan “kawan lamanya”, yang juga 10 huruf, yakni menghakimi.
Ada beberapa alasan kenapa menghakimi lebih mudah daripada mengampuni. Pertama, karena kita memposisikan diri sebagai hakim yang merasa lebih benar daripada terdakwa. Menjawab alasan ini, biarlah kita berpikir lagi apakah kita tidak pernah melakukan bahkan yang lebih buruk daripada terdakwa tersebut. Kedua, karena kita merasa kita sudah dirugikan oleh orang yang menyakiti kita. Dalam hal ini, kita memposisikan diri sebagai korban yang berhak menuntut terdakwa. Hanya saja, ada banyak korban lain juga yang bisa saja menuntut kita karena perlakuan kita yang jauh lebih buruk.
Satu hal yang menarik perhatian saya, saya mengenal seorang yang tidak pernah berdosa, sehingga Dia layak menjadi hakim. Dia juga disalibkan karena dosa kita. Oleh karena itu, Dia juga adalah korban yang layak menuntut kita. Namun, pertanyaan besarnya adalah: mengapa dia justru merelakan diri mati bagi kita?
Mengapa Yesus mati bagi saya dan Anda?
Teman-teman, Yesus mengerti hati Bapa yang sangat mengasihi kita. Dia tidak mencium betapa busuknya dosa kita, Diapun tidak mengingat-ingat kesalahan kita. Dia memberikan hidup-Nya untuk kita karena kasih-Nya.
Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. (Yoh 15:13)
Suatu hari, akan ada orang yang bingung ketika kita sungguh-sungguh mengikut Yesus. Mereka akan heran dan bingung kenapa kita tetap mengasihi mereka bahkan setelah mereka menyakiti kita. Dan mereka akan bertanya: mengapa?
Lagu ini sangat sering saya dengar di gereja ketika kecil dan remaja:
Mengapa Yesus turun dari sorga, masuk dunia g’lap penuh cela;
berdoa dan bergumul dalam taman, cawan pahit pun dit’rimaNya?
Mengapa Yesus menderita, didera, dan mahkota duri pun dipakaiNya?
Mengapa Yesus mati bagi saya?KasihNya, ya kar’na kasihNya.
Mengapa Yesus mau pegang tanganku, bila ‘ku di jalan tersesat?
Mengapa Yesus b’ri ‘ku kekuatan, bila jiwaku mulai penat?
Mengapa Yesus mau menanggung dosaku, b’ri ‘ku damai serta sukacitaNya?
Mengapa Dia mau melindungiku?KasihNya, ya kar’na kasihNya
Hal yang menarik di lagu ini adalah tidak ditanyakan “mengapa saya?” tapi “mengapa Yesus”. Sebab tidak ada alasan yang membuat saya layak untuk diampuni. Perbuatan baik saya tidak akan bisa menyelamatkan saya. Amal dan ibadah tidaklah cukup untuk menghapus kesalahan saya. Hanya karena kasih-Nya.
To love, is to forgive…and to be loved is to be forgiven. Amen? God bless you!
Tuesday, June 16, 2015
Anchor. Helper.
Often, I will feel stressed. Being pressured from every directions, I couldn't sleep.
I looked at men and women, hoping for their help.
But, I couldn't find it. I even tried to handle my stress by spending my time in the social media. That too, is useless.
But one day, God spoke to me. He told me that He is my helper. No one else can help me like he can. God showed me how the psalmist understood this:
I lift up my eyes to the mountains - where does my help come from? My help comes from the Lord, the Maker of heaven and earth (Psalm 121:1-2)And peace overwhelmed me. Peace like no other peace. Peace from God.
The day after, I began to think about another uncertainty. I began to worry again.
The Lord then spoke to me that the future may be uncertain, but my hope in Him is certain, firm, and secure.
We have this hope as an anchor for the soul, firm and secure. It enters the inner sanctuary behind the curtain, where our forerunner, Jesus, has entered on our behalf. (Hebrew 6:19-20a)God is my anchor. Whatever the future I will face, I don't mind. As long as God is with me, everything will be okay.
Beloved, when the uncertain future terrifies you, put your trust in God, your anchor, your helper. Glory to God. Amen.
Friday, June 5, 2015
Percaya Saja!
Glory to GOD!
pics from http://nicholasmazzoli.com/wp-content/uploads/2009/12/father-and-son1.jpg
Tuesday, March 3, 2015
“Apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit?”
Bahkan, milikilah iman yang sama seperti seorang janda miskin yang memberi seluruhnya kepada Tuhan, itu dilakukannya dalam keadannya yang berkekurangan (Lukas 21:43-44).
Friday, February 27, 2015
Terlalu sulit bagi saya, terlalu mudah bagi Dia
Setelah lama saya tidak menulis, saya tidak kuasa untuk menahan diri dari menceritakan bagaimana Tuhan sekali lagi menyertai saya. Oh ya saya ingin ralat, menyertai kami (saya dan isteri).
Tawaran Pak Direktur
Bagaimana saya memulai setelah sekian lama tidak menceritakan kebaikan-Nya.. Hmm, mungkin dengan menceritakan peristiwa yang terjadi di tempat kerjaku beberapa bulan yang lalu. Waktu itu, saya menyampaikan surat pengunduran diri ke Pak Direktur, karena Tuhan memberikanku apa yang kuingini selama ini, yakni beasiswa S3 di luar negeri. Pak Direktur, mempersilahkanku masuk ke ruangannya yang besar, dan ketika saya sampaikan ingin resign, beliau membujukku untuk stay. Lalu, beliau berpikir sejenak, dan menawarkanku promosi, yang berarti gaji bulananku naik 2x lipat. Tidak hanya itu, beliau mendukung saya untuk tetap studi S3 dengan tetap menerima gaji tersebut.
Saya benar-benar tidak menyangka, saya hanya diingatkan Tuhan untuk memberi yang terbaik dalam pekerjaan yang selama ini cukup membuat saya bosan. Tapi disitu Tuhan ajarkan saya untuk setia dalam perkara kecil. Disitu Tuhan ingatkan agar saya beri yang terbaik. Saya tidak tahu sama sekali bahwa Tuhan bermaksud mempromosikan saya ketika saya melakukan hal-hal kecil itu. Kini saya sadar, bahwa ketika kita taat, bahkan taat dalam perkara terkecil sekalipun, Tuhan itu setia menggenapi firman-Nya:
Lukas 16:10 Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar..
Isteriku Menegur Pak Lurah
Pagi itu mama, saya, isteri, dan sopir pergi ke kantor lurah karena kami perlu Kartu Keluarga yang baru untuk mengurus visa pada siang harinya. Kami butuh mujizat karena Pak Lurah tidak ada di tempat dan waktu kami semakin singkat ke jam appointment pengurusan visa. Kami semua stress berat di kantor lurah menunggu Pak Lurah yang khusus hari itu sangat kami rindukan. Lalu sopir kami mengidentifikasi seorang pejabat yang lalu membantu kami agar kami nyusul ke kantor tempat Pak Lurah yang sedang rapat. Pak Lurah lalu meninggalkan ruang rapat, dan hendak menandatangani KK tsb, tapi hampir-hampir beliau salah tandatangan, sampai2 isteri saya refleks menegur beliau. Kami lalu bergegas ke tempat pengurusan vsia, namun nyasar dan hampir-hampir tidak bisa sampai tepat waktu. Tapi, lagi-lagi, Tuhan kami adalah the master of timing sehingga kami datang di waktu yang tepat. Sekalipun kami harus “lari-lari” mengejar lurah, sekalipun isteriku terpaksa menegur beliau, sekalipun kami nyasar, tapi Tuhan yang kami sembah tidak pernah lalai menepati janji. Sebab Firman Tuhan berkata:
Ibrani 113:5b "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau. "
Kejadian 39:2a “Tetapi TUHAN menyertai Yusuf sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya”
Mencari Rumah di Manchester
Siapa bilang mudah untuk mencari rumah untuk saya, isteri dan mempersiapkan tempat tinggal bagi si kecil yang masih dalam kandungan? Kami sudah keliling, tanpa hasil. Ada yang menyampaikan bahwa pemilik tanah tidak mau ada anak kecil. Yang lain tidak bisa turun harga. Yang lain malah menomor 2 kan kami, padahal sudah hampir deal. Tapi hari ini, ketika kami bersaat teduh, ada sesuatu yang berbeda. Tuhan ingatkan kami untuk menyanyikan lagu El Shaddai, Tuhan Maha Besar. Dia Maha Kuasa.Ternyata, El Shaddai itulah yang menjawab doa kami dengan kuasa-Nya.
Siang hari sebenarnya kami sudah survey rumah lagi, namun ternyata rumah itu terlalu kecil bagi kami, dan kami sempat putus asa. Tapi, ternyata itu adalah cara Tuhan untuk menyadarkan kami bahwa Tuhanlah yang membuka jalan dan bukan karena usaha kami sendiri. Padahal, saya sudah hampir tidak jadi mensurvey rumah yang lain karena telat, namun bus itu tiba-tiba datang dan mengantar saya ke tempat yang Tuhan sudah sediakan. Landlord (pemilik properti) tersebut sebenarnya sudah mendapatkan tawaran dari calon penghuni yang lain. Namun, dia menginginkan agar kami yang tinggal di rumahnya. Ajaib bin ajaib, rumah itu 4 menit jalan kaki dari rumah sakit yang direncanakan untuk persalinan isteri, dan 7 menit jalan kaki dari pasar favorit belanja kami, dan dekat juga dengan universitas, dan harganyapun cukup terjangkau.
Saya teringat kembali akan betapa sulitnya saya mencari rumah. Ini membuat saya seperti tidak percaya semua terjadi hari ini dengan begitu mudahnya. Terkadang, saya merasa bahwa Tuhan ingin menunjukkan kepada saya bahwa hal yang terlalu sulit bagi saya, itu terlalu mudah bagi Dia. Ia mengingatkanku pada lagu yang tadi pagi kami nyanyikan, yakni bahwa Ia itu adalah El-Shaddai, Lord God Almighty.
Kel 6:2-3 Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: "Akulah TUHAN. Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri.”
Aku percaya bahwa TUHAN yang kusembah adalah El-Shaddai, Allah yang penuh kuasa. Namun, aku juga percaya bahwa Dia adalah Bapa, yang menyertaiku selalu. Kasih setia-Nya besar dan mujizat-Nya melimpah bagiku. Waktu-Nya adalah indah. Terlalu indah, sampai sering sekali aku tidak bisa memahami keindahannya sebelum semuanya menjadi nyata.
Beloved, God Almighty is with you.
Thursday, February 19, 2015
Setia dalam perkara kecil
Tidak ada hal yang besar yang tidak lahir dari hal-hal yang kecil. Apabila seorang ingin melakukan hal yang besar, ia harus memulai dari setia dalam hal kecil. Hidup adalah sebuah rumah indah yang sudah didesain oleh Arsiktek Agung. Namun, bangunan rumah itu tidak akan terwujud tanpa pasir-pasir kecil dan tetes-tetes keringat hari demi hari.
Tuhan Yesus berkata: "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10). Daud memulai dengan menggembalakan domba sebelum menggembalakan bangsa Israel. Yusuf mengatur rumah tuannya dan mengelola penjara sebelum mengatur Mesir.
Jangan remehkan hal kecil. Hal kecil adalah awal dari hal besar. Hal kecil adalah pendidikan yang ingin Tuhan ajarkan sebelum kita melakukan hal yang besar.
Beloved, God loves you.

