Thursday, June 30, 2011

Beruang Besar + Nasi Padang + Musim-musim = JANGAN KUATIR


Mat 6:32b-34:
“Akan tetapi, Bapamu yang di sorga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu, janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

“Akan tetapi, Bapamu yang di sorga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu...”

Jack, seekor kucing 15 pon dengan warna putih-oranye, ditugaskan tuannya untuk menjaga halaman belakang rumah yang ia huni. Dia selalu menakut-nakuti tikus dan binatang kecil lainnya yang ingin masuk. Suatu hari, pemilik rumah terkejut melihat Jack sedang duduk tepat dibawah pohon sambil memandang ke atas pohon tersebut. Ia memandangi seekor beruang hitam gendut besar yang ketakutan padanya sehingga memanjat pohon. Bagaimana mungkin seekor beruang hitam gendut besar takut akan seekor kucing kecil? Apa yang beruang tersebut pikirkan?

image

Pertanyaan yang lebih ironis bagi kita adalah bagaimana mungkin kita takut dan kuatir ketika menghadapi masalah yang kecil? padahal Bapa kita yang di Sorga begitu besar. Ia tahu akan apa yang kita perlukan. Ia “mau” dan “mampu” memenuhi kebutuhan kita. Bagaimana mungkin kita masih kuatir?

Masalahnya bukanlah “Apa yang kita lihat” tapi “Bagaimana kita melihatnya?”

Ø “Apa yang kita lihat?” akan mengatakan: “Waktumu tidak cukup!” atau “studiku hancur!”  atau “ia tidak mungkin mengampunimu!” atau “aku tidak bisa memuridkan” atau “mana mungkin anak rohanimu berubah, apalagi berbuah?!”

Ø Tapi “Bagaimana kita melihatnya” akan mengatakan: “Masa depan ada di tanganNya! Janganlah kerajinanmu kendor!” atau “kesanggupanku ialah pekerjaan Allah” atau “keturunan rohaniku akan sebanyak bintang di langit” atau “Ia yang mengubah gunung batu mejadi kolam air, dan mengubah batu yang keras menjadi mata air, bagaimana mungkin Ia tidak bisa mengubah hati temanmu dan anak rohanimu?!”

<dikutip dan dimodifikasi dari Our Daily Bread, 22 May 2008>

“Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu..”

“TAMBAH nasi Da!”, kataku kepada si “Uda” di suatu restoran Padang. Tak beberapa lama kemudian si “Uda” datang dan membawakan nasi tambahan yang di-request perutku. Sebelumnya, aku sama sekali tidak berencana untuk tambah nasi, fokusku adalah makan nasi dan rendang yang pertama kali kupesan.

Demikian pula fokus orang yang tidak kuatir, fokusnya mencari kerajaan Allah dan kebenarannya, itu adalah nasi dan rendang yang pertama kali ia pesan. Makanan, pakaian, popularitas, dan uang adalah “nasi tambahan” yang tidak terlalu dipikirkannya.

TUHAN Yesus adalah tipe ini, nasi padang dan rendang-Nya adalah melakukan kehendak ALLAH. Yang lain cuma tambahan.

“Sebab itu, janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari..”

Ada banyak musim di bumi ini. Ada musim hujan, kemarau, dingin, panas, semi, gugur, dll. Masing-masing musim memiliki tantangannya sendiri: Kalau musim panas, tubuh berkeringat, di angkot sumpek-sumpekan, gak betah rasanya. Kalau musim salju, badan menggigil, bisa kena flu. Kalau musim hujan, uda becek, gada ojek lagi, :p.

Orang yang kuatir adalah orang yang “menggigil” pada musim panas dan “keringatan” pada musim dingin. Saat musim panas datang, dan musim dingin masih lama, ia terus berpikir dan berpikir terus. “Bagaimana nanti kalau turun salju?” Ia “menggigil” saat matahari bersinar panas.

Masalah hari esok harusnya tidak membuat kita “bermasalah” pada hari ini. Tiap musim punya tantangannya sendiri. Kesusahan satu musim cukuplah untuk satu musim. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.

WHY kita gak perlu kuatir? Karena kita punya “Beruang Besar” yang menjagai kita, Bapa kita sendiri. “Kuatir” tidak akan menambah sehastapun pada tanah kita, tapi “iman” akan memindahkan gunung batu.

HOW orang yang gak kuatir hidup?

1. Ubah cara pandang! Pakai kacamatanya Bapa! Gimana caranya? Dengerin firman Tuhan! Cara pandang seseorang dapat dilihat dari kata-katanya. Cara pandang Bapa kita dapat dilihat dari Firman-Nya. Apa yang terlalu sulit buat kita, terlalu gampang buat Dia Smile with tongue out

2. Ubah lokasi pandang! Ubah fokus kita! Jadikan kerajaan Allah dan kebenarannya sebagai “nasi padang dan rendang” kita, sedangkan yang lain (makanan, pakaian, uang) sebagai “nasi tambahan kita”. Pikirkan perkara yang di atas, bukan yang di bawah!

3. Pandanglah apa yang harus dipandang saat ini! Jangan biarkan kesusahan hari besok menambah kesusahan hari ini! Jangan menjadi “orang yang menggigil pada musim panas”!

Ketika Tuhan Yesusku berkata “Jangan kuatir”, Ia tidak sedang bermain-main. Kata “JANGAN” pada “JANGAN kuatir!” setara dengan kata “JANGAN” pada “JANGAN mebunuh!” atau “JANGAN mencuri!” atau “JANGAN berzinah!” atau “JANGAN mengucapkan saksi dusta!”. Karena Dia TIDAK SUKA pada kata “KUATIR”!

Bagi-NYA: Orang yang kuatir = Orang yang meragukan-Nya.

Aku belum pernah menjadi seorang ayah, tapi aku yakin adalah sangat menyakitkan bagi seorang ayah, bila anaknya meragukannya.

image

-Glory to God-

Monday, June 27, 2011

Perjalanan ke Dufan yang Mengubahkan Hidupku

Haha. Serem pisan ni judulnya, judul tulisan orang2 melow yang lebay banget (Puji Tuhan buat karakter yang sedang dibentuk, hwehwe). But, I write this writing in a very happy mood (which is impossible if u look at my face when I got up this morning) ;p.

Okay here it goes, happy reading folks.

Beberapa hari lalu aku ke Dufan (Dunia Fantasi) bareng temen2 kerjaku. Setelah nari-nari di kamar bersama Abg PA (sebut saja BP). Haha, Yah, Abg itu tahu aku ga kan bisa lah menikmati Dufan, soalnya emg dunia memang tak bisa menghibur hatiku (ceilehhh) haha.

Pas di Dufan, aku melihat film 4D Dora, bla bla bla (btw hati-hati pas nonton Dora di Dufan, ntar ada yang nyipratin air, pdhl gak seru bgt filmnya). Tp bukan ini inti ceritanya. Huehue. Lalu aku masuk wahana, yang ada pertunjukan hewan-hewan yang “pinter”.

Pertama ada si burung (gtau jenis apa) yang bisa joget, bisa masukin gelang ke tempatnya. Prok prok prok prok, penonton tepuk tangan, keren pisan.

Terus ada si tikus laut gitu yang bisa maen bola basket, bisa slam dunk, bisa bawa gerobak bakso, wah pokonya mereka keren banget.

honey bearTerus ada lagi si beruang madu, yang letoy tapi pinter, masa dia bisa nangkep bola, ud ky kiper beneran aja. Bisa naek sepeda juga lagi. Ckckck, mantaplah pokonya.

Trakhir yang paling jengjengjeng antiklimaks, haha, si kuda nil yang kerjanya makan doang, gede banget dia. Pisang 1 kepok di makan langsung ga nyampe 5 menit (buat yang rakus bertobat, hehe).

Tapi temen2, aku merasakan sesuatu yang aneh ketika aku melihat pertunjukan itu.

SERIUS MODE: ON.

Rohku berbisik, “lihat mereka vid, semuanya taat sama instruktur mereka, kamu tahu kenapa? mereka selalu diberi makan setiap kali sebelum mereka mau melakukan perintah instrukturnya.”

Hewan2 itu begitu taat sama instrukturnya, tapi mereka taat karena ada pancingan makanan. Setiap gerakan yang taat selalu dipancing dengan makanan. Dan kalau mereka tampil dengan baik, mereka diberi upah (makanan) lagi.

Lalu rohku berbisik lg: "bukankah kamu sering begitu? Taat untuk mendapatkan berkat? Taat kalau diberi berkat?”

Kata-kata itu menusuk hatiku. Begitu tajam! Aku sadar aku menertawakan hewan2 itu, tapi terkadang aku bersikap sama seperti mereka. Aku mau lakukan apa yang Tuhan mau, kalau Tuhan mau memberkatiku. Aku taat supaya mendapatkan berkat-Nya.

Pagi ini, ketika aku bersaat teduh, aku memulainya dengan sungut-sungut karena pergumulan yang begitu berat. Begitu tertekan jiwaku, karena Dia tidak menjawabku, karena Dia tidak melepaskanku.

Lalu Tuhan berbicara padaku. “Kamu tahu Sadrakh, Mesakh, dan Abednego? Ketika mereka diancam akan dimasukkan ke dalam perapian yang menyala-nyala karena nama-KU, apa jawab mereka?”
“Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” (Dan 3:17-18)

perapian

These words are so strong, even now when I’m writing this, I feel the Holy Spirit talks so deep. So deep. So deep, to you and me. Sekalipun Dia tidak melepaskan aku, aku tidak akan menyembah patung itu! AKU AKAN TETAP MENYEMBAH ALLAHKU.

What a praise! Pujian sejati keluar dari mulut seseorang yang menyembah-Nya bukan karena berkat-Nya, bukan untuk mendapatkan berkat-Nya. Tapi karena kasih-Nya pada Tuhan, karena dia tahu bahwa hidupnya telah ditebus oleh Kekasihnya. Love is the reason why we praise Him, it is not to get His blessing, it is love. It is love alone.

Berkat Tuhan bisa membuat kita jauh dari Dia, tapi kemuliaan dan kasih-Nya akan mengubahkan hidup kita.

Saulus menjadi Paulus bukan karena ia mendapatkan berkat-Nya, tapi karena ia melihat kemuliaan-Nya dan kasih-Nya pada orang-orang kudus-Nya dan kepada dunia yang terhilang.

Seek not His blessing my friends, seek His face.
”tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu”

with fire and love. Beloved, God loves u. Praise Him not because of His blessing, but because you love Him, for He loves u first Smile.

-merk sebuah pen tidaklah ditulis di daftar pustaka, tapi hanya nama Penulisnya-

Monday, June 20, 2011

The Risk of Being Loved

Siapa diantara kita yang tidak mau dicintai? Aku yakin tidak ada. Semua mau dicintai. Dunia butuh kasih atau cinta atau love, apapun namanya itu. Dunia butuh cinta. Lebih spesifik: kita butuh dicintai.

Dicintai itu asyik, diperhatiin, dipikirin, dan dihibur ketika kita sedih oleh orang yang sangat mencintai kita. But, I want to tell you the truth about love. There is a risk of being loved. Being loved by the one whose being is LOVE itself (GOD Himself).

Saya ingin bercerita sedikit tentang kisah seorang yang disebut: “a man after God’s own heart”. Seorang raja Israel bernama Daud, yang namanya berarti: BELOVED (yang dikasihi).

Ketika Daud pada masa mudanya diurapi Nabi Samuel menjadi seorang raja, aku membayangkan satu RT heboh! Seandainya itu terjadi pada zaman sekarang, semua warga potong kambing dan sapi, bikin pesta. Papanya juga pasti nggak bisa tidur mikirin anaknya bakal dilantik menjadi raja. Mungkin dia membayangkan tinggal di istana, mendadak jadi orang kaya.

Semua seperti berjalan lancar ketika Daud menjadi pahlawan Israel, mengalahkan Goliat, raksasa dari Filistin. Semakin jelas kemana arah hidup Daud, semakin terbuka pintu istana baginya. Bukan cuma itu, si Daud ini dipilih jadi pemain musik kerajaan untuk mengusir setan-setan yang mengganggu raja Saul. Posisi Daud semakin naik, promosi demBELOVEDi promosi dialaminya. Ngga stop sampe disitu, Daud ini juga dipilih jadi panglima tentara Israel (mungkin kalau sekarang, jadi menteri pertahanan negara). Dan, ga cukup sampe disitu, Daud dijadikan menantu raja. Sudah jelas sekali sepertinya arah hidup Daud. Jalan tol masuk istana sudah dibuka bagi raja baru Israel. But God has other plan for David. Dia membuat susah jalan Daud. Daud difitnah, mau dibunuh, terbuang dari kerajaan, jadi buronan.

Janji-Mu sperti fajar pagi hari? Tak-kan pernah terlambat ‘tuk bersinar? Mungkin dan sangat mungkin Daud mengeluh. Malam kemarin dia calon raja Israel, pagi ini dia buronan kerajaan Israel. Janji-Nya jelas, suara-Nya amin, urapan minyak di kepalanya masih dia ingat, itu bukan mimpi, itu kenyataan, tak usah diragukan lagi. Tapi buktinya: NIHIL! (waktu itu). 99 dari 100 orang akan berkata “WHY GOD?” dan melanjutkan dengan “BUKANKAH KAU BERFIRMAN bla bla bla.” But, David is different. He knows He loves God and God loves Him. That’s why He gives thanks no matter what happen in His life. He believes that GOD IS GOOD and HE WAS, IS, AND WILL ALWAYS BE A GOOD GOD.

Nama Daud berarti “BELOVED” atau “YANG DIKASIHI”. Dan firman ini berlaku buat KITA SEMUA yang PERCAYA TUHAN MENGASIHI KITA: “karena Tuhan menghajar (mendisiplin) orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah (membuat jera) orang yang diakui-Nya sebagai anak.” (Ibrani 12:6) “Because the LORD disciplines the one he loves,  and He chastens everyone He accepts as His son.” (NIV). The risk of being loved, Smile.

Kamu susah? Janji Tuhan sepertinya ga jadi-jadi? Harusnya raja malah jadi buronan? Itu bagus, karena kamu dikasihi TUHAN. GOD is making a butterfly out of a cocoon. If it’s easy, you will never learn to depend only on Him. (kalau terlalu mudah, kita tak’kan pernah belajar bergantung pada-Nya). If it’s easy, you will never learn to put your trust only in Him. (kalau terlalu mudah, kita tak’kan pernah belajar untuk percaya dan berharap hanya kepada-Nya). Give thanks for all the trials, all the waitings, long-sufferings, the chosen people God’s provide around you who educate and discipline you (bersyukur untuk mereka yang membentuk karakterku ;p), love God not because of His blessing, but because of who He is: “Your father, who wants the best of you, and really2 wants to show you how He loves you, and really really really wants you to trust Him, He wants you to depend solely on Him.” Amen.

GBU, beloved ;p

Merk sebuah pen tidaklah dicantumkan di daftar pustaka, nama penulisnyalah yang dicantumkan.

-Glory to God-

Saturday, June 11, 2011

Lihat Kebunku

Ayat saat teduh hari ini sangat merhema bagiku:

“Sampai dicurahkan kepada kita Roh dari atas: Maka padang gurun akan menjadi kebun buah-buahan, dan kebun buah-buahan itu akan dianggap hutan.” (Yes 32:15)

Masa padang gurun adalah masa penantian. Penantian itu nggak enak, setuju? Yah emang ga enak, kalo kita mau jujur pada diri kita sendiri. Tapi aku percaya, Tuhan mau membuat padang gurun itu menjadi kebun buah-buahan. Maksudnya? Tuhan rindu kita hidup dalam Roh dalam menantikan janji-Nya. Hidup di dalam Roh berarti intim dengan Roh Kudus, dan memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus. Janji Tuhan kalau kita hidup dalam Roh adalah kita akan berbuah. Kita akan hasilkan buah-buah Roh, yaitu: “Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.” (Gal 5:22-23)

Asyik ya? Hehe. Ketika aku menanti di padang gurun, aku senang karena Tuhan membuat padang gurun itu menjadi kebun buah-buahan. Di situ ada buah kasih, ada buah sukacita, ada buah damai sejahtera, ada buah kesabaran, ada buah murah hati, ada buah kebaikan, ada buah kesetiaan, ada buah kelemahlembutan, dan ada buah penguasaan diri. FruitsBuahnya wuenak-wuenak, pasti orang lain bakal suka juga mampir ke kebun kita. So, padang gurun? Siapa takut! Roh Kudus kuandalkan, Dia ubah padang gurunku menjadi kebun buah-buahan. Dia ubah karakterku, dan itu ga bisa kubeli dengan uang berapapun.

Lihat kebunku, penuh dengan buah, karena Roh Kudus menjadikan semuanya indah. Sekalipun menulis kata-kata ini sulit bagiku, tapi aku tahu ini benar dan aku akan tetap menulisnya: “Kita harus berdoa bukan hanya untuk berkat-Nya saja, tapi untuk pendidikan-Nya dalam hidup kita.” God’s education, by faith, is the gold we need to pursue. Amin.

-Glory to God-

Thursday, June 9, 2011

SMILE

Smile becomes natural when I’m close with Him. TERPESONA ku s’lalu dibuat-NYA. Mr.BeanWhat a Loving Father HE IS.
BTW, He loves you too
Smile

Sunday, May 29, 2011

POWER OF WORDS

Sulit bagiku untuk memberi pendahuluan dalam tulisan ini. Aku harus menyampaikannya. Dan aku harus menyampaikannya segera. Seperti ada api membakarku untuk menulis ini, karena aku percaya tulisan ini memberkati mereka yang membacanya dengan lembut hati, mereka yang rindu mengenal Tuhan dan melihat, mengalami, menjadi saksi betapa hebat-Nya Dia, pahlawan yang memberi kita kemenangan.

Ketika aku menulis ini, aku sadar kalau orang pertama yang harus kukhotbahi adalah diriku sendiri. Bukannya aku, tapi Roh Kudus yang di dalamku, Dialah yang berkhotbah kepada jiwaku.

Sebuah kemustahilan bagiku untuk mengampuni dia yang menyakitiku. Namun aku tahu aku harus mengampuni dan melupakan. Jiwaku terus membenci dan aku hanya terdiam, tak bisa meredakannya. Itu membuatku tertekan, frustrasi, dan terintimidasi. Sampai Roh Kudus membakar lidahku, sehingga aku harus berkata-kata. Dia membuat lidahku memperkatakan Firman kepada diriku sendiri. Mengkhotbahi diriku sendiri. Pagi itu terjadi percakapan antara lidah dan telingaku. Lidahku memperkatakan Janji Tuhan yang menegur jiwaku. Dan Tuhan memberiku kemenangan. WOW :p. Ini aneh,,, tapi luar biasa! Janji Tuhan yang sangat indah mengenai masa depanku membuatku sanggup melupakan kegagalan masa laluku. Puji Tuhan!

Aku percaya kalau Tuhan memperhitungkan kata-kata kita.

Ingat kejadian mengenai perempuan Siro Fenisia yang anaknya kerasukan setan? Kepada perempuan yang “sempat ditolak” Yesus ini, Tuhan sendiri berkata: “Karena KATA-KATA-mu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.” (Mrk 7:29). Karena apa Tuhan bertindak? Karena KATA-KATA si Ibu itu.

Akupun teringat dengan 2 penjahat yang disalib sebelah-menyebelah dengan Tuhan. Mereka sama-sama kriminal, namun nasib mereka berbeda di akhir. Karena apa? Karena respon kata-kata mereka yang berbeda terhadap Juruselamat. Yang satu menghujat-Nya, yang satu mengakui dan mengingatkan Yesus dengan kata-katanya.

Ams 18:21: “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.”

Nasibmu ditentukan oleh kata-katamu!

Sekarangpun aku mengerti kenapa peristiwa Pentakosta (Baptisan Roh Kudus) ditandai dengan lidah-lidah api. Karena LIDAH-ku + API ROH KUDUS = POWER! GLORY! VICTORY!

POWER dan VICTORY yang bukan hanya dari kata-kata positif (Ciayo! Ayo! Semangat! Kamu bisa! dll), ataupun dari kutipan-kutipan firman secara teoritis (logos), tapi perkataan Firman yang dirhemakan oleh Roh Kudus.

Mrk 13:11: “Dan jika kamu digiring dan diserahkan, janganlah kamu kuatir akan apa yang harus kamu katakan, tetapi katakanlah apa yang dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga, sebab bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Kudus.”

Jangan biarkan jiwa / perasaanmu terus menguasai hidupmu. Itu akan membuatmu sangat tertekan. Jangan hanya diam. Berkata-katalah! Biarkan Roh Kudus bicara Firman melalui lidahmu! Kamu harus berbicara! Jangan diam! Khotbahi dirimu sendiri!

Ayub 32:20 “Aku harus berbicara, supaya merasa lega, aku harus membuka mulutku dan memberi sanggahan.”

Rohlah komandan, jiwa harus menjadi bawahan. Ketika jiwa, si bawahan itu, mulai kecewa, benci, sungut2, ragu2; Komandan Roh harus berkata-kata, berteriak, bahkan memarahi dan menyanggah jiwa itu.

Hari ini Tuhan Yesus mengajariku bagaimana menang lewat memperkatakan Firman oleh Roh Kudus. Rohku rindu kita semua mengalaminya.

Amin.

-Glory to God-

Friday, December 3, 2010

Rambut Sang Pangeran


Alkisah di sebuah istana nan jauh, hiduplah seorang raja yang sangat kaya. Ia dan anaknya, sang pangeran, hidup di istana yang sangat megah. Lantainya terbuat dari kristal dan dilapisi permadani. Temboknya berkilauan karena dilapisi emas murni. Istana tersebut sangat besar dan di dalamnya terdapat begitu banyak kamar kerajaan.

Setiap hari, di kala malam, raja selalu meluangkan waktu untuk makan bersama sang pangeran. Sambil menikmati hidangan malam, mereka bercakap-cakap. “Ayah! Bagaimana dengan keuangan kita?!”, teriak sang pangeran, “Tahukah ayah krisis sedang melanda kerajaan kita?! Bagaimana mungkin kita bisa hidup lama di istana? Apa yang akan kita makan? Bagaimana kita mengupah pegawai istana?!”. Rajapun terdiam, ia tetap menikmati hidangan. Lalu sang pangeran mengeluh lagi: “Yah! Siapa jodohku? Engkau tahu aku sudah dewasa dan memerlukan seorang permaisuri! Ini penting bagiku yah!” Namun raja tetap terdiam, menghabiskan hidangan malamnya. Setelah selesai makan malam, raja masuk ke ruangan favoritnya. Suatu ruangan yang gelap. Ruangan yang penuh dengan rambut. Ruangan ini seperti salon yang tidak disapu berabad-abad.

Raja memiliki hobi yang aneh. Ia suka mengumpulkan rambut pangeran ke dalam ruangan favoritnya ini. Di ruangan itulah kemudian raja menghitung rambut sang pangeran. Ia mengisi turus debet dan kredit jumlah rambut tersebut dan menghitung saldonya.

Kejadian ini berlangsung setiap hari. Setiap makan malam, pangeran selalu mengeluh, dan raja selalu masuk ke ruangan tersebut.

Sampai suatu hari, sang pangeran kehilangan kesabarannya. Diam-diam, ia mengikuti raja dan masuk ke ruangan tersebut. Sang pangeran kemudian terkejut melihat banyaknya rambut di ruangan itu. “Rambut siapakah ini? Dan mengapa ayah menghabiskan waktu menghitungnya? Tidakkah ayah peduli dengan aku? Kekayaanku? Jodohku? Tidakkah ayah peduli?!”, tanya sang pangeran yang kecewa.

Sambil memegang sehelai rambut, sang rajapun tersenyum dan berkata: “Ini rambutmu anakku. Sehelai rambut yang terjatuh ini berarti terdapat 1.223 rambut di atas kepalamu saat ini. Satu helai rambutmu penting bagiku, apalagi engkau, kekayaanmu, dan jodohmu anakku.”

Lalu sang pangeran terdiam. Ia kehabisan kata-kata keluhan. Sambil menangis ia memeluk ayahnya yang sangat mengasihinya.

Don’t be afraid…

Pernahkah kita berkata: “Ini penting bagiku Tuhan! Mengapa Engkau tidak peduli?!”. Lalu kita mengeluh dan kecewa? Mungkin berkaitan dengan masalah uang? Pekerjaan? Studi? Teman hidup?

Lalu kita mulai takut. Takut nggak punya uang, takut nggak dapet posisi, takut studi gagal, takut nggak punya TH?!

Yesus berkata bahwa Allah menghitung dan mengetahui jumlah rambut kita. Dengan kata lain: Allah menganggap penting sehelai rambut kita! Apalagi studi, pekerjaan, keuangan, atau TH kita!

Bukalah kamus hidupmu dan lihat pada bagian “T”. Carilah kata “Takut”! Apakah masih ada?! Kalau ada, hapuslah! Hapuslah karena kata itu menunjukkan bahwa kita tidak mengenal Allah kita dengan baik.

BagiNya, sehelai rambut kita sangatlah penting. Apalagi masa depan, studi, pekerjaan, keuangan dan teman hidup kita. God knows. God cares. He cares even more than we care. God doesn’t want us to be afraid. God loves u.

Luk 12:7: bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipt.


Dia sendiri…

Sedikit kesaksian di hari valentine ini. Puji Tuhan setelah sekian lama, aku bisa lulus dari ITB. “Akhirnya lulus juga” adalah frasa yang paling pas untuk menggambarkan kelulusanku. Semua karena Tuhan, semua untuk kemuliaan Tuhan. Kelulusan memang indah, tapi tidaklah seindah pengalaman berjuang bersama Tuhan. Serasa hanya beberapa centimeter dari kepalaku adalah hidupku dulu yang hancur dan tak berarah. Kenajisan dan dosa penyebab kemalasan melingkupi aku. Aku tidak bisa mengerjakan tugas akhirku. Aku frustrasi. Ingin lepas, ingin melangkah, tapi apa daya tak mampu bergerak. Selimut kegelapan mengikat diriku di ranjang kemalasan. Dalam selimut itu aku menangis. Aku berseru kepada Dia yang menciptakan air mataku, dan Ia menjawabku. Perlahan tapi pasti, Tuhan membangkitkanku. Buluh patah ini, sumbu pudar ini, tetap berharga di mataNya. Saat teduh kembali menjadi gaya hidupku dan suara Tuhan mulai bergema di telingaku. Dari 0 menjadi 1 dan dari 1 menjadi 10. Begitulah cara kerja Sang Pembuat Tiada Menjadi Ada. Ketika aku malas mengerjakan tugas akhirku, aku tinggal berdoa pada Kekasihku. Ia sendiri akan duduk di sebelah kursiku, menemaniku mengerjakan tugas akhirku. Kopi tak diminumNya, tapi aku tahu Dia tidak pernah mengantuk. Mana mungkin mataNya mengantuk melihat kekasihNya.

Lalu datang badai gelap. Metode penelitianku tidak tepat, hasilnya kok aneh. Dia janji aku lulus. Tapi mana buktinya?! Hatiku begitu berat dan aku menangis. Bagaikan bayi cengeng aku menangis dan yang kudengar hanyalah “Cup cup cup,, coba lagi… Tuh kan bisa..” Lalu aku kembali tersenyum. Dia sayang banget sama kita. Bakar semua kamus yang mengartikan kata cinta! Hanya Dialah yang bisa mengartikannya!

Siapa bilang badai pasti berlalu? Belum lama “badai salah metode” berlalu, datang lagi “badai data susah didapet”. Jauh-jauh aku ke Rancaekek, naik bus DAMRI, yang ada cuma CP perusahaan yang lari-lari. Pintu PT. Coca Cola tertutup bagi pemuda tampan ini :p. Tapi Tuhan bekerja dengan cara yang ajaib. Setelah ibu CP itu kembali tak bisa kutemui, tak sengaja aku bertemu dengan seorang yang mengerti pergumulanku dalam mencari data, tentunya selain Kekasihku dan diriku sendiri. Namanya Mas David, pegawai Marketing PT. Coca Cola. Mas David inilah yang dipakai Kekasihku untuk menolongku mencari data. Ironis memang, dibutuhkan seorang David untuk mengerti perasaan David dan untuk menolong David. Kekasihku itu memang pintar bercanda. Hahahaha. Pintu PT. Coca Cola memang tertutup, tapi Kekasihku telah membuka pintu belakangnya. Bye-bye “Badai data susah didapet” :p.

Serasa begitu dekat ruangan sidangku. Sebuah ruangan pejagalan untuk domba tak berdaya. Tiga kursi bagi algojo, semua bergelar Doktor. Dan satu kursi kecil panas bagi pemuda kemerah-merahan (belum ada gelar) yang mencoba keberuntungannya. Sehari sebelum sidang, aku berkata “I came this far with You Love, now it’s the final. But I will always love You no matter what.” Yahh itu sih ngomongnya, dalem hati si mudah-mudahan lulus dan dapet A :P. David vs 3 Goliaths. Itulah judul sidangku. Sesuai prediksi aku dibantai. Tapi aku melihat Kekasihku berdiri bersamaku, membisikkanku jawaban-jawaban atas badai pertanyaan yang menerjangku. Kekasihku memegang tanganku sepanjang sidang. Ia membuatku kokoh tak bergeming. Ada saatnya susana menjadi tegang, 6 mata melototiku dengan tatapan “kerjaanmu gak bener!”. Lalu Kekasihku duduk bersama dosen-dosenku dan membuat mereka tertawa :p. Pengumuman nilai dilakukan langsung setelah sidang. “Dengan ini dag, mahasiwa dig bernama dug David Rumeser dag lulus dig dengan dug nilai dag (untung ngga ada stelah pesan2 berikut ini :p) dag dig dug A”..Heuhhhh lega. Aku tersenyum gembira. Suasana ruangan sidang ibarat tahun baruan di siang bolong. Satu demi satu mengucapkan selamat dan meninggalkan ruangan. Lalu aku melihat Kekasihku tersenyum bangga meneteskan air mataNya. Seorang yang paling merasakan kebahagiaanku.

Bukan malaikatNya yang menemaniku. Bukan pesuruhNya yang dikirim saat aku susah dan sendiri. Dia sendiri yang menggandeng tanganku, menemaniku begadang, menangis dan tertawa bersamaku. Dia sendiri. Tulisan ini kupersembahkan untuk Yesus, Kekasihku. Valentineku. Cinta sejatiku. Love You.

Ul 31:28: Sebab Tuhan, Dia sendiri akan bejalan didepanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.”

Ketika aku menulis, aku merenung lagu apa yang paling pas untuk memuji Tuhan. Jazz? Pop? Hiphop? Rock? Hahaha, renungan yang aneh. Tapi yang pasti lagunya musti medley, karena kasih setia Tuhan tak pernah berakhir.

Merk sebuah pen tidaklah dicantumkan di daftar pustaka, nama penulisnyalah yang dicantumkan.

-Glory to God-